MALANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang tidak akan merekomendasikan Stadion Kanjuruhan sebagai tempat pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya yang direncanakan digelar pada Selasa 28 April 2026. Mereka menyarankan duel bertajuk Derby Jatim itu digelar di luar kota!
Hal itu disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Malang, Rahmat Hardijono, dalam kegiatan Sharing Session bertajuk, ‘Malang Raya Roundtable: Mencari Konsesus Publik Jelang Derby Jatim’. Acara itu digelar GEN Malang Raya di Kota Malang, Rabu 15 April 2026.
Rahmat mengatakan, Kanjuruhan masih menyisakan luka yang mendalam pasca tragedi 1 Oktober 2022. Sikap penolakan tersebut akan disampaikan oleh Bupati Malang, Sanusi, dalam rapat bersama Polres setempat.
“Pemkab Malang tidak merekomendasikan laga Derby Jatim digelar di Kanjuruha. Ini ada luka yang belum pulih, yang belum bisa disembuhkan. Nanti bupati akan rapat di Polres tidak akan merekomendasikan Kanjuruhan. Izin sampai sekarang belum keluar,” kata Rahmat, dikutip Kamis (16/4/2026).
“Pemerintah Kabupaten Malang tidak akan merekomendasikan Stadion Kanjuruhan sebagai tempat pertandingan Arema melawan Persebaya pada 28 April,” tegasnya.
Di forum yang sama, Ketua PSSI Kabupaten Malang, Muhammad Ukasyah Ali Murtadho, menyebut sikap Pemkab sudah cukup menjadi alasan untuk membatalkan Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. Ia juga mendapat informasi Polres Malang menyatakan tidak siap mengawal laga.
“Kalau sudah dinyatakan Pemkab Malang tidak merekomendasikan Derby Jatim digelar di Kanjuruhan, itu sudah menjadi salah satu unsur untuk membatalkan pertandingan,” ujar Ali.
“Ini kami dapat informasi Kapolres Malang tidak siap. Berarti sudah ada dua aspek. Satu aspek saja bisa membatalkan pertandingan. Ini sudah dua aspek. Tinggal kita tunggu putusan resminya,” tegas Ali.
Sementara itu, peneliti Rafi Azzamy dengan tegas menyatakan penolakannya atas rencana Derby Jatim digelar di Kanjuruhan. Ia melihat ada niat jahat dari rencana tersebut, yakni kepentingan bisnis dan mengaburkan persoalan tragedi Kanjuruhan.