“Walaupun mereka bilang cinta klub, tapi kalau tindakannya merugikan klub, ya sebenarnya kita tidak butuh suporter seperti itu,” tegasnya.
Doni juga menilai hukuman larangan suporter hadir di stadion sudah mulai kehilangan efektivitas. Makanya, harus ada sistem pendataan yang lebih baik.
Doni bahkan mendorong penggunaan teknologi face recognition seperti yang sudah diterapkan di sejumlah liga luar negeri. Menurutnya, itu dapat membantu mengidentifikasi pelaku kerusuhan agar tidak bisa kembali masuk stadion.
“Kalau memang mau ada efek jera, pelaku kerusuhan harus bertanggung jawab langsung. Jangan cuma klub yang dihukum. Kalau perlu dikaitkan juga dengan pidana,” kata Doni.
Selain itu, Doni menilai klub juga harus lebih aktif membangun komunikasi dengan komunitas suporter. Salah satunya dengan membuat forum rutin atau sarasehan agar supporter memahami kondisi finansial klub.
“Misalnya dijelaskan bahwa pemasukan klub banyak habis karena denda akibat pelanggaran suporter. Kalau stadion aman dan sponsor masuk lebih banyak, efeknya tiket bisa lebih murah dan fasilitas lebih baik,” papar Doni.
"Jadi suporter juga harus sadar menjaga keamanan stadion itu menguntungkan mereka sendiri,” tandasnya.