Suporter Rusuh Bikin Klub Merugi, Hukuman Komdis PSSI Tidak Efektif!

Andri Bagus Syaeful , Jurnalis
Rabu 20 Mei 2026 21:10 WIB
Komdis PSSI diminta untuk lebih tegas dalam memberi hukuman sehingga efektif (Foto: Instagram/@panggilsajaaldo_)
Share :

FENOMENA kerusuhan suporter kembali menjadi sorotan besar dalam sepakbola Indonesia. Mulai dari aksi turun ke lapangan, penyalaan flare, hingga perusakan fasilitas stadion, terus berulang dan berujung pada hukuman berat dari Komdis PSSI.

Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan besar, apakah hukuman yang selama ini diberikan benar-benar efektif? Pengamat Sepakbola, Doni Setiabudi, menilai hukuman yang dijatuhkan sejatinya sudah cukup berat dan sangat merugikan klub.

Namun di sisi lain, perilaku oknum suporter masih terus berulang. Sehingga diperlukan langkah yang lebih tegas dan modern dalam pengelolaan pertandingan.

1. Dampak Kerusuhan Suporter

Sejumlah kasus dalam beberapa musim terakhir menunjukkan dampak kerusuhan suporter bukan hanya merugikan klub secara moral, tetapi juga secara finansial. Persela Lamongan misalnya, sempat dihukum larangan bermain tanpa penonton selama satu musim akibat kerusuhan suporter.

Hukuman itu menjadi pukulan besar bagi klub karena kehilangan pemasukan pertandingan dan berdampak terhadap kondisi finansial tim hingga membuat sejumlah investor memilih mundur. Terbaru, Persipura Jayapura juga menerima hukuman larangan bermain tanpa penonton selama satu musim.

Situasi tersebut membuat klub berjuluk Mutiara Hitam harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar terutama untuk kebutuhan akomodasi dan transportasi tim. Sementara, pemasukan dari penjualan tiket dan kehadiran suporter praktis hilang.

Belum selesai sampai di situ, kasus terbaru kembali terjadi saat laga PSM Makassar kontra Persib Bandung. Ulah oknum suporter yang masuk ke dalam lapangan kembali membuat klub berada dalam posisi dirugikan dan terancam sanksi tambahan.

"Kalau saya berkaca dari beberapa pertandingan terakhir yang memang sering terjadi kerusuhan atau suporter masuk ke lapangan, sebenarnya hukuman itu cukup terasa," kata Doni dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).

"Contohnya Persib Bandung yang kena denda AFC sampai Rp3,5 miliar dan larangan didampingi penonton beberapa pertandingan. Itu jelas berat dan sangat merugikan klub," imbuhnya.

"Kalau regulasinya mengatakan pelanggaran tertentu hukumannya sekian, ya harus diterapkan seperti itu. Jangan sampai sanksi muncul berdasarkan persepsi atau suka tidak suka terhadap klub tertentu,” kata Doni.

Namun Doni juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yakni budaya suporter di Indonesia yang dinilai masih belum siap menerima kekalahan. Dalam sepakbola cuma ada tiga hasil, menang, kalah, atau seri. Tapi, kultur menerima kekalahan suporter Indonesia masih rendah.

Makanya, kata Doni edukasi kepada suporter itu penting. Kerusuhan yang terjadi sejatinya bukan hanya merugikan klub secara finansial tapi merusak atmosfer pertandingan dan membuat penonton lain merasa tidak nyaman.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya