JAKARTA – Anggota Komite Eksekutif PSSI (Exco PSSI), Arya Sinulingga, menanggapi kasus rasisme yang terjadi usai laga Persebaya Surabaya vs Persib Bandung di Super League 2025-2026. Ia sungguh menyayangkan aksi tersebut.
Laga Persebaya Surabaya vs Persib Bandung yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Kota Surabaya, Senin 2 Maret 2026 malam WIB, berakhir imbang 2-2. Selayaknya pertandingan besar, duel kesebelasan berjalan begitu sengit dan panas.
Lalu, sempat terjadi juga gesekan antara Mikael Alfredo Tata dan Kakang Rudianto. Sayangnya, duel kedua pemain ditanggapi negatif oleh suporter.
Dua pemain muda Timnas Indonesia itu menjadi korban rasisme di media sosial. Diduga, Kakang dan Mikael mendapat serangan rasisme dari oknum suporter masing-masing kedua kesebelasan.
Menanggapi isu tersebut, Arya mengaku sedih. Menurutnya, sepakbola seharusnya menjadi tempat untuk melawan segala bentuk tindakan rasis. Namun sayangnya, sebagian suporter Indonesia masih cukup mudah melakukan ujaran kebencian tersebut.
“Itu yang kami cukup sedih. Sebenarnya di dunia sepakbola fair play-nya kuat. Sepakbola itu fair play. Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepakbola. Jadi, kenapa terlalu gampang tangan untuk menulis ataupun omongan terlalu gampang untuk rasis,” kata Arya, dikutip Sabtu (7/3/2026).
Pria berkacamata itu menyebut ujaran rasis yang dilakukan oleh oknum suporter tersebut cukup ironis. Sebab, biasanya justru masyarakat Asia termasuk Indonesia yang menjadi korban dari pihak luar. Namun kini justru ujaran tersebut dilakukan sesama masyarakat.
“Sebenarnya lucu juga, kita orang Indonesia itu rasis. Karena biasanya justru kita yang terkena rasis, di mana-mana hampir seperti itu. Di dunia itu orang di Asia itu lebih sering kena rasis, tapi sekarang kenapa kita jadi rasis. Jadi, itu jadi pertanyaan yang aneh, kok bisa,” ujar Arya.
Karena itu, Arya berharap kepada seluruh suporter Indonesia untuk berperilaku lebih dewasa. Ia juga mengimbau untuk tidak terlalu mudah menuliskan ujaran rasisme di media sosial.
“Jadi, kami harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepakbola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir. Ini gampang sekali menulis tanpa berpikir,” pungkas Arya.
(Wikanto Arungbudoyo)