PERSIB Bandung pasang badan untuk pemainnya Kakang Rudianto dan bek Persebaya Surabaya Mikael Tata yang menjadi korban rasisme di media sosial. Mereka sekaligus menegaskan sikap klub terhadap tindakan tidak terpuji semacam itu.
Pertandingan pekan ke-24 Super League 2025-2026 menyajikan laga bergengsi antara Persebaya Surabaya vs Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Kota Surabaya, Senin 2 Maret malam WIB. Duel klasik tersebut berakhir 2-2.
Selayaknya pertandingan besar, duel tersebut berjalan cukup sengit dan panas. Sempat terjadi juga gesekan antara Mikael dengan Kakang. Satu yang pasti, rivalitas tersebut terjadi selama 90 menit saja.
Meski begitu, Kakang dan Mikael justru mengalami tindakan rasis setelah pertandingan berakhir. Kedua pemain muda Indonesia itu menjadi korban ujaran negatif di media sosial.
“Kami ingin menegaskan bahwa PERSIB berdiri bersama Kakang Rudianto dan juga memberikan dukungan moral kepada Mikael Alfredo Tata,” kata Adhitia, dikutip dari laman resmi klub, Kamis (5/3/2026).
“Kedua pemain tersebut adalah bagian dari generasi muda sepakbola Indonesia yang sedang berkembang dan mereka berhak mendapatkan lingkungan yang sehat, aman, serta penuh respek untuk terus bertumbuh,” imbuhnya.
Diduga, Kakang dan Mikael mendapat serangan rasisme dari oknum suporter masing-masing kedua kesebelasan. Adhitia mengimbau kepada kelompok suporter Persib dan Persebaya untuk tidak terpancing. Mengingat, mereka memiliki hubungan yang baik.
“Kami juga percaya mayoritas suporter, baik Bobotoh maupun Bonek, memiliki semangat yang sama: mencintai sepakbola dengan cara yang bermartabat,” terang Adhitia.
“Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk tidak terpancing oleh tindakan segelintir oknum yang justru dapat merusak nilai persaudaraan antar pecinta sepakbola,” tegasnya.
Lebih lanjut, Adhitia dengan tegas menyampaikan Persib berkomitmen memberantas segala bentuk diskriminasi di sepakbola. Ia mengingatkan kepada seluruh pencinta sepak bola Tanah Air untuk lebih dewasa.
“PERSIB berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya yang menolak segala bentuk diskriminasi di sepakbola. Kami berharap momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua sepakbola Indonesia hanya bisa tumbuh jika dibangun di atas rasa saling menghormati,” kata Adhitia.
“Kepada Kakang dan Tata, kalian tidak sendirian. Sepakbola yang sehat adalah sepakbola yang melindungi para pemainnya, dan kami akan selalu berdiri di sisi itu,” pungkasnya.
(Wikanto Arungbudoyo)