KISAH Persija Jakarta tahun 1964, menjadi juara nasional tanpa terkalahkan menarik untuk diulas. Capaian Macan Kemayoran masih menjadi sejarah manis yang sangat heroik dan juga ikonik dalam perkembangan sepakbola Indonesia.
Sepak terjang Persija Jakarta pada masa itu memiliki semangat revolusi yang sangat berani dengan merombak para pemain senior menjadi pemain muda. Berbagai perubahan dilakukan sejak awal 1960-an.
Strategi yang dilakukan mulai dari memasukkan pemain-pemain wajah baru hingga perpindahan kandang dari Lapangan Ikada ke Stadion Menteng. Secara perlahan dan penuh kerja keras, skuad Macan Kemayoran akhirnya muncul menjadi kekuatan utama di kompetisi perserikatan.
Manajemen Persija Jakarta kala itu menunjuk Liem Soen Joe atau yang tersohor dengan panggilan Drg Endang Witarsa sebagai pelatih. Pria yang akrab disapa Pak Dokter itu langsung bergerak untuk merombak wajah klub.
Seperti strategi klub-klub modern Eropa saat ini, ia memilih untuk bertaruh untuk anak-anak muda dengan skill tinggi serta energi yang masih besar. Endang bereksperimen memasukkan pemain muda yang pada saat itu dinilai berisiko tinggi. Ia lalu jadi bulan-bulanan publik.
Revolusi yang dilakukan dengan memasukkan nama-nama pemain belia bertalenta seperti Sinyo Aliandoe, Yudo Hadiyanto, Reni Salaki, Fam Tek Fong, Dominggus, Supardi, Didik Kasmara, Soegito, Tahir Yusuf, dan Liem Soe Liong (Surya Lesmana). Nama-nama itu dikombinasikan dengan Kwee Tik Liong dan Soetjipto Soentoro, yang masih muda tapi pengalamannya di pentas sepak bola nasional sudah lumayan teruji.
Pasukan muda Persija mampu menghantam klub-klub rival seperti Persib Bandung dan PSM Makassar. Akhirnya mereka menjadi kampiun Perserikatan edisi 1964 dengan rekor tak pernah merasakan kekalahan dan jumlah gol yang dihasilkan juga sensasional.