MANCHESTER – Pesepakbola legenda Manchester United, Gary Neville, secara tegas menentang aturan Financial Fair Play (FFP) yang diterapkan UEFA. Neville menilai, keberadaan FFP membuat pemilik klub tidak bisa berkreasi dengan kekuatan uang yang mereka miliki.
Sekadar informasi, pada 2009 UEFA mengeluarkan aturan FFP yang baru diberlakukan pada 2011-2012. Tujuan dikeluarkannya FFP agar klub-klub terhindar dari kebangkrutan.
(Man City terkena hukuman dari UEFA karena melanggar FFP)
FFP sendiri mengatur, setiap klub tidak boleh mengalami kerugian 15 juta euro (Rp222,4 miliar) setiap musimnya. Kerugian boleh saja mencapai 20 juta euro (Rp2965 miliar), asalkan dalam tiga musim jumlah kerugian sebuah klub tidak menembus angka 45 juta euro (Rp667,2 miliar)
Semenjak adanya aturan FFP, klub-klub yang mengalami kerugian turun mencapai 20 persen. Hanya saja, aturan tersebut dinilai Neville membelengu sejumlah klub, terutama mereka yang dimiliki pengusaha kaya raya. Sebab, kekuatan uang si pemilik menjadi tak berasa, mengingat mereka tak bisa lagi mengeluarkan uang jorjoran karena dibatasi aturan Financial Fair Play.
BACA JUGA: Lampard Tidak Pikirkan Dampak Hukuman yang Diterima Manchester City
“Saya sudah lama memiliki pandangan tentang FFP. Gagasan seorang pemilik klub tidak boleh menginventasikan uang di klub mereka merupakan sesuatu yang sangat saya tidak setuju,” kata Neville mengutip dari Daily Mail, Selasa (18/2/2020).