BANDUNG - Nama Djadjang Nurdjaman sangat identik dengan Persib Bandung. Pria yang akrab disapa Djanur itu merupakan salah seorang legenda hidup 'Maung Bandung'.
Ia pernah menjadi juara bersama Persib saat kompetisi perserikatan pada 1986. Saat jadi asisten pelatih, ia juga ikut mengantarkan Persib menjuarai Liga Indonesia I pada 1995.
Yang paling fenomenal tentu pencapaian terakhir saat ia menjadi pelatih Persib. Ia menggondol empat gelar turnamen dan kompetisi.
Juara Celebes Cup II 2012, Indonesia Super League (ISL) 2014, Piala Wali Kota Padang 2015, dan Piala Presiden 2015. Itu jadi bukti sahih sekaligus penegasan bahwa Djanur benar-benar legenda Persib.
Meski berjaya sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala di Persib, Djanur ternyata tidak pernah memiliki julukan. Ia hanya dikenal dengan namanya saja. Tidak ada embel-embel julukan.
"Dari dulu saya mah enggak punya julukan. Panggilannya nama saja, enggak ada embel-embel julukan," kata Djanur.
Djadjang, demikian ia biasa disapa saat masih menjadi pemain hingga di awal-awal menjadi pelatih Persib. Belakangan, ia mendapat nama baru yaitu Djanur yang merupakan singkatan dari namanya.
"Nama Djanur mah baru sekarang-sekarang. Enggak tahu juga awalnya kenapa disingkat jadi Djanur," ungkapnya.
Meski begitu, ia menikmati panggilan barunya dalam beberapa tahun terakhir ini. Ia tidak masalah dipanggil dengan nama Djadjang maupun Djanur.
Saat ini, beberapa pemain Persib memiliki julukan tersendiri. Hariono si gelandang pengangkut air, Tantan Si Kujang Lembang, hingga Atep dengan julukan Lord Atep.
Disinggung apakah ingin memiliki julukan seperti para pemainnya, Djanur menjawab sambil tertawa. "Sudah lah jangan pakai julukan-julukan, sudah kagok," ucapnya.
Bagi Djanur, julukan-julukan bagi pemain atau siapapun yang terlibat dalam sepakbola adalah hal biasa. Itu dipandang sebagai bumbu dalam industri sepakbola sekaligus bagian dari sisi hiburan agar menjadi daya tarik tersendiri.
(Daniel Setiawan)