SURABAYA – Separuh musim Indonesian Super League (ISL) sudah menjadi ajang persaingan sengit pemain di masing-masing klub. Di deretan pemain lokal terdapat sejumlah pemain yang mengawali musim dengan sangat baik, namun ada pula yang gagal total.
Kegagalan seorang pemain dalam mendapatkan posisi utama di klub, bukan selalu disebabkan faktor kualitas. Ketatnya persaingan dalam sebuah tim bisa mengorbankan seorang pemain. Selain juga faktor adaptasi, baik dengan karakter permainan tim maupun pelatih.
Dari data yang dikoleksi redaksi, empat klub Jawa Timur memiliki memunculkan pemain yang gagal maupun berhasil. Di sini redaksi menggunakan parameter paling sederhana, yakni dari mutu permainan dan jumlah penampilan mereka selama memperkuat klubnya masing-masing.
Di antara pemain yang memberikan kontribusi maksimal untuk klub adalah Hendro Siswanto. Musim keduanya bersama Arema Cronous, pemain ini mengalami progres signifikan walau Arema dipenuhi pemain limpahan dari Pelita Jaya. Dia adalah salah satu pemain lama Arema yang berhasil menjawab tantangan di tim utama.
Dari klub lain, Mahardiga Lasut bisa dicomot sebagai salah pemain yang gagal bersinar di Persegres Gresik United. Dia hanya beberapa kali menjadi starter di awal putaran pertama, setelah itu menghilang dari tim utama karena kalah bersaing dengan Ahmad Sembiring atau Agus Indra Kurniawan. Di bawah ini ulasan kinerja pemain lokal sepanjang putaran pertama:
Pemain yang Melejit:
-Hendro Siswanto (Arema Cronous)
Mengawali kiprahnya di Arema musim lalu, mantan pemain Persela Lamongan ini belum menunjukkan performa terbaiknya. Kualitas individunya tidak begitu terlihat dan hanya mampu mengantar Arema di papan bawah klasemen. Ketika musim ini Arema ditukangi Rahmad Darmawan, pemain berposisi gelandang ini melejit. Di luar perkiraan, dia menjadi pemain lama Arema paling reguler tampil di tim utama selain kiper Kurnia Meiga. Dia sempat diposisikan sebagai bek kanan, sebelumnya akhirnya dikembalikan ke posisi ideal sebagai gelandang. Hendro hingga pertengahan musim menjadi kekuatan penting di lini tengah Singo Edan. Jarang cedera juga membuat Hendro bisa memanfaatkan momentum untuk terus menjadi pilihan utama Rahmad Darmawan. Rating: 7,5
-Christian Gonzales (Arema Cronous)
Striker naturalisasi yang diangkut dari Persisam Samarinda ini masih menunjukkan dirinya sebagai salah satu striker kelas atas di Indonesia. Bersama Arema Cronous, dia tidak perlu terlalu lama beradaptasi. Sebanyak 11 gol sudah mewakili kiprahnya di paruh pertama ISL. Dia langsung menjadi bagian penting bagi tim Singo Edan dalam memburu gelar juara musim ini. Usia yang tidak muda mungkin memperlambat mobilitas mantan pemain Persik Kediri dan Persib Bandung tersebut. Tapi tidak sampai memengaruhi nalurinya di depan gawang. Sebagai sosok target man, dia masih menjadi yang terbaik hingga kini. Dengan rekornya itu, putaran kedua tampaknya El Loco masih terus menjadi aset vital bagi tim asuhan Rahmad Darmawan. Rating: 8
-Samsul Arif (Persela Lamongan)
Samsul Arif sempat kesulitan saat kembali ke Persela Lamongan. Aliran golnya sempat seret di pertengahan putaran pertama lalu. Tapi secara umum, dia cukup berhasil jika melihat kontribusinya, baik lewat sembilan gol maupun performanya di lapangan. Soal urusan mencetak gol, harus diakui pemain asli Bojonegoro ini bukan seorang predator. Dia penyerang enerjik, pencari bola, sekaligus merusak pertahanan lawan dengan dribble-nya. Sembilan gol di putaran pertama sudah cukup bagus untuk striker yang memperkuat Persela untuk kedua kalinya. Kekuatan fisik dan tidak malas berlari patut mendapat kredit tersendiri. Rating: 7
-Fachrudin Wayudi (Persepam Madura United)
Tidak banyak yang menaruh perhatian khusus pada bek milik Persepam Madura United (P-MU) ini. Kendati demikian, dia sudah mencatat hasil gemilang pada musim pertamanya di Pulau Madura. Ditransfer dari PSS Sleman, bek berusia 24 tahun tersebut langsung menjadi tumpuan di benteng pertahanan Sapeh Kerap. Fachrudin yang pernah memperkuat tim nasional, selalu menjadi pilihan pelatih Daniel Roekito bersama Firly Apriansyah. Nyaris tidak ada bek tengah lokal di Jawa Timur yang mencatat statistik seperti Fachrudin. Keberadaannya cukup menggembirakan mengingat selama ini posisi bek tengah didominasi pemain impor. Rating: 7
Pemain Gagal Bersinar:
-Mahardiga Lasut (Persegres Gresik)
Gelandang berusia 24 tahun ini belum berjodoh dengan klub barunya, Persegres Gresik United. Di putaran pertama hanya tampil tujuh kali, tiga di antaranya menjadi starter, bukan catatan yang membanggakan untuk pemain yang pernah memperkuat tim nasional U-23. Digadang sebagai gelandang masa depan Laskar Joko Samudro, mantan pemain Sriwijaya FC ini gagal menjawab tantangan di tim asuhan Widodo C Putro. Dirga Lasut hanya mendapat tempat di tim utama saat Suharno masih menukangi tim kebanggaan Ultras. Rating: 5
-Reza Mustofa (Arema Cronous)
Pemain ini dianggap bakal menjadi bintang di Arema Cronous seperti pemain lain yang hijrah dari Persema Malang ke Arema, yakni Ahmad Bustomi dan Arif Suyono. Nyatanya, jalan menuju tim utama Singo Edan sangat terjal. Sebelumnya menjadi kekuatan utama Persema Malang belum menjadi jaminan baginya bakal dipercaya pelatih Rahmad Darmawan. Sepanjang putaran pertama, Reza sama sekali belum pernah merasakan kenikmatan bermain di depan puluhan ribu Aremania. Rating: -
-Djayusman Triasdi
Pemain berposisi bek ini lebih banyak membeku di bangku cadangan Persela Lamongan. Walau memiliki pengalaman di tim besar macam Persebaya Surabaya, PSM Makassar maupun Persisam Samarinda, di Lamongan dia baru mendapat jatah enam kali bertanding. Keberadaan dua pemain asing di posisi centre back, Roman Golian dan Han Sang Min, menyulitkan pemain berusia 25 tahun ini menembus tim utama, kecuali dua pemain asing itu cedera atau skorsing kartu. Rating: 5
(Windi Wicaksono)