MEDAN - Dalam dua kali laga kandang di Stadion Teladan, Medan, Sumatera Utara, pada kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) 2011 ini, pertandingan yang dilakoni Bintang Medan FC selalu minim penonton. Tak salah jika panitia pelaksana (panpel) pertandingan mengundang ratusan pemain Sekolah Sepakbola (SSB) yang ada di Medan menonton langsung di stadion.
Biasanya, hanya suporter setia mereka -SmeCk- yang mengisi tribun terbuka di bagian timur stadion. Kini, panpel pertandingan Bintang Medan FC melawan tamu dari ibukota, Jakarta 1928, yang akan berlangsung Minggu (20/2/2011), berencana menggalang dukungan dengan memberi tiket gratis pada 10 SSB yang tersebar di Medan.
"Untuk meramaikan stadion, kita akan mengundang 38 SSB yang ada di Medan. Masing-masing SSB diwakili 10 orang," ungkap Ketua Panpel Bintang Medan Fc Agus kepada Okezone, Sabtu (19/2/2011) sore.
Sebelumnya, panpel juga telah menurunkan harga tiket pertandingan untuk mengundang kehadiran penonton, saat menjamu Manado United pada 6 Februari lalu. Harga tiket VIP yang sebelumnya Rp75 ribu diturunkan menjadi menjadi Rp50 ribu.
Sedangkan, harga tiket tribun tertutup menjadi Rp30 ribu dari sebelumnya Rp50 ribu, dan tribun terbuka hanya Rp10 ribu dari sebelumnya Rp20 ribu. "Harga tiket ini berlaku sampai akhir kompetisi," ujar Agus, saat mengumumkan penurunan harga tiket pertandingan Bintang Medan tersebut.
Sementara itu, dalam pertandingan kandang yang ketiga kalinya ini, Agus berharap para pecinta sepakbola di Medan akan berduyun-duyun datang ke Stadion Teladan untuk memberikan dukungan bagi tim yang berjuluk Soldier Kinantan tersebut. Apalagi, tim ini merupakan 'saudara kandung' dari PSMS Medan, klub kebanggan warga Medan.
Sebelumnya, Bintang Medan telah bermain dua kali di Stadion Teladan. Yakni, saat menjamu Aceh United dalam laga perdana mereka di LPI musim ini, dan melawan Manado United. Dalam dua pertandingan tersebut, mereka berhasil meraih poin penuh. Tim Bintang Medan FC sendiri bertekad akan terus mempertahankan 'keangkeran' Stadion Teladan ini bagi tim tamu.
(Muhayati Faridatun)