MUNICH – Ruang ganti Real Madrid di Allianz Arena menjadi saksi bisu runtuhnya martabat sang raja Eropa. Setelah disingkirkan Bayern Munich dengan agregat skor 6-4, Presiden Madrid, Florentino Perez dilaporkan turun langsung menemui para pemain.
Kehadirannya bukan untuk sekadar menghibur, melainkan memberikan penilaian yang sangat tajam dan dingin atas hancurnya perjalanan Madrid di musim 2025-2026. Pasalnya kekalahan dari Bayern ini memastikan Los Blancos akan menyudahi musim tanpa gelar untuk kedua kalinya secara beruntun.
Tentu fakta dua musim beruntun tanpa gelar juara merupakan sebuah anomali yang sangat menyakitkan bagi klub dengan standar setinggi Madrid, apalagi Barcelona kini kukuh di puncak La Liga dengan keunggulan sembilan poin.
Usai tersingkir dari Liga Champions 2025-2026, Perez membuka pembicaraannya dengan nada tegas. Meski mengakui perjuangan para pemain di malam itu, ia langsung menusuk ke inti masalah, kegagalan kolektif tim sepanjang musim di kompetisi domestik maupun Eropa.
“Saya menghargai upaya kalian hari ini, tetapi musim ini benar-benar mengecewakan bagi semua orang,” ujar Perez dikutip dari Give Me Sport, Selasa (21/4/2026).
Perez mengingatkan bermain untuk Real Madrid bukan sekadar soal kontrak besar, melainkan soal memikul beban ekspektasi yang masif.
“Kalian tahu tuntutan menjadi pemain Real Madrid. Satu musim tanpa gelar adalah kegagalan karena kita adalah Real Madrid, tetapi dua musim tanpa memenangkan gelar adalah hal yang tidak tertahankan," tambahnya.
Selain masalah mentalitas, Perez dikabarkan sangat tidak puas dengan perencanaan skuad dan dampak minimal dari para pemain baru. Investasi besar senilai hampir 180 juta euro yang digelontorkan untuk mendatangkan pemain seperti Trent Alexander-Arnold, Franco Mastantuono, Dean Huijsen, dan Alvaro Carreras dianggap belum memberikan imbal balik yang sepadan di lapangan.
Kritik tajam juga mengarah pada hilangnya identitas lokal dalam tim. Untuk pertama kalinya dalam sejarah klub di Liga Champions, tidak ada satu pun pemain asal Spanyol yang masuk dalam susunan pemain utama saat melawan Bayern.
Hal ini berbanding terbalik dengan Barcelona yang baru-baru ini menurunkan sembilan pemain Spanyol di laga krusial mereka.
“Menjadi pemain Real Madrid adalah hak istimewa, dan semua orang ingin memakai seragam klub ini. Selain hak istimewa, itu juga membawa tanggung jawab, dan banyak dari kalian yang belum memenuhi tanggung jawab tersebut. Kalian tidak memenuhi ekspektasi klub,” tambah Perez.
Kini, masa depan pelatih Alvaro Arbeloa berada di ujung tanduk meski kabarnya ia baru akan didepak pada akhir musim. Nama-nama besar seperti Jurgen Klopp dan Didier Deschamps sudah mulai dikaitkan sebagai calon penyelamat untuk musim depan.
(Rivan Nasri Rachman)