Souza menilai kedua kesebelasan merupakan tim yang gemar memeragakan sepak bola ofensif. Dengan kondisi lapangan yang standar internasional, ia yakin penonton akan disuguhkan skema permainan terbaik dari kedua tim.
“Bagus di sana (Bali), lapangan lebih bagus daripada di sini. Ada dua tim yang suka main dengan bola dan ofensif permainannya,” sambung Souza.
“Saya sangat suka itu permainan dari lawan itu, mereka bagus organisasinya dan bagus agresif dengan bola. Tim kita juga suka main dengan bola. Jadi saya sangat senang bisa pertandingan di Bali, lapangan seperti itu,” pungkasnya.
Di sisi lain, perpindahan venue ini menjadi pukulan telak bagi PSIM Yogyakarta. Selain terpaksa menjadi tim musafir, Laskar Mataram juga dipastikan kehilangan suntikan semangat dari para pendukungnya karena pertandingan tersebut resmi ditetapkan berstatus tanpa penonton.
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan tren negatif yang sedang menyelimuti PSIM Yogyakarta. Armada asuhan Jean Paul Van Gastel tercatat belum meraih satu pun kemenangan dalam lima laga terakhir.
Teranyar, Laskar Mataram harus menelan pil pahit setelah kalah 1-2 dari Bhayangkara FC pada pekan ke-28 Super League 2025-2026. Situasi ini tentu berbanding terbalik dengan Persija yang datang dengan motivasi tinggi usai memetik kemenangan di laga sebelumnya.
(Rivan Nasri Rachman)