"Saya diberitahu siapa yang bisa mengisi peran itu, Farshad, tapi melihat di turnamen, bukan pemain sepertinya yang kami cari. Dia pemain yang bagus, tapi bukan yang Persib Bandung butuhkan dalam posisi yang spesifik tersebut," jelas pria berpaspor Belanda itu.
(Farshad Noor batal dikontrak Persib Bandung. (Foto: Persib.co.id)
Menurut Robert, ada kesulitan tersendiri bagi tim Indonesia, termasuk Persib, dalam berburu pemain asing yang tak pernah bermain di Indonesia. Sebab, skema talent scouting alias pencari bakat belum dijalankan dengan baik di Indonesia seperti di Eropa.
"Itu adalah masalah sejak lama, kami tidak berada di situasi seperti di Eropa. Bahwa ketika membutuhkan pemain dengan peran tertentu, sistem scouting mengidentifikasi sosok yang dibutuhkan dan pada prinsipnya membeli pemain itu," paparnya.
Di Indonesia, kondisinya justru berbeda. Saat ingin mencari pemain dari luar negeri, seringkali yang didapatkan adalah pemain berstatus bebas transfer. Tak jarang pelatih yang berburu informasi untuk mencari pemain.
Perburuan pemain pun kadang terhambat. Sebab, pemain yang diincar biasanya masih terikat kontrak dengan klub asalnya dan timnya masih bermain di kompetisi. Sehingga, hanya pemain bebas transfer yang lebih mudah didapatkan.
"Di beberapa bagian di dunia, seperti di sini, kami tidak bisa keluar mencari pemain dan membelinya, tetapi mencari pemain yang free transfer," ungkap Robert.
Kondisi itu semakin pelik. Sebab, pemain yang dibutuhkan kemampuanya tak hanya harus sesuai ekspektasi tim pelatih. Sang pemain sangat diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan filosofi klub dan suporternya. Hal itu juga berlaku di Persib Bandung.
"Kami harus mencari pemain yang spesifik dibutuhkan di posisi tersebut dan sesuai dengan filosofi maupun budaya di sini. Pemain harus bisa merasa nyaman. Sehingga, ketika Bobotoh sudah bisa memenuhi stadion lagi, mereka bisa mengapresiasi pemain tersebut," tandas Robert.
(Ramdani Bur)