Share

Jangan Samakan Pesepakbola dengan Pisau Belati

Opini, Okezone · Kamis 24 November 2022 15:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 45 2714102 jangan-samakan-pesepakbola-dengan-pisau-belati-W1kNIUHyfs.jpg Phil Jones, pesepakbola yang dikenal mempunyai mental baja. (Foto: REUTERS)

PENGGALAN kalimat dilontarkan bek Manchester United, Phil Jones kepada para penghujat yang secara bertubi-tubi melontarkan ledekan kepadanya atas performanya di lapangan. Berikut kalimatnya:

"I'm proud of my career and when it finishes and I'm enjoying my life...(the keyboard warriors) will still be in their mum's spare bedroom, sipping Diet Pepsi that's flat, eating a Pot Noodle, sitting in their boxers, tweeting."

Phil Jones

(Sempat jadi andalan Manchester United era Sir Alex Ferguson, Phil Jones kini terlempar ke bangku cadangan)

Selain hujatan yang menyakitkan, lelucon soal Phil Jones kerap muncul dalam format yang lebih terstruktur dan diniatkan, yaitu meme. Dalam beberapa kesempatan Phil Jones sempat melakukan aksi-aksi konyol yang mengundang gelak tawa, tetapi banyak orang merasa hujatan dan umpatan yang menghujam Phil Jones sudah melewati batas.

Bahkan, meme soal Phil Jones yang semula jenaka kini mulai membosankan dan kian terasa menyedihkan. Beruntung, Phil Jones sempat mengeluarkan statement seperti yang dicantumkan di awal artikel yang setidaknya memperlihatkan ia tak tinggal diam atas perlakuan buruk beberapa fans terhadapnya.

Walaupun sudah memberikan balasan, kita tidak pernah tahu apakah perasaan sedih masih tinggal di hati Phil Jones atau mungkin membutuhkan waktu yang lama untuknya hingga dapat berdamai dengan kondisi tersebut.

Phil Jones

Perlu diingat, tidak semua pemain memiliki ketahanan mental yang sama seperti Phil Jones. Tiap pemain punya caranya masing-masing untuk menyikapi sebuah tekanan. Pada beberapa kasus, ada pemain yang beranggapan bahwa mengakhiri hidup merupakan cara yang terbaik untuk menjawab itu semua.

Penting juga bagi kita untuk memperhatikan mental para pemain sepakbola. Tidak usah jauh-jauh, untuk pemain tim kesayangan dulu saja. Karena menurut pengalaman, justru para pemain lebih sering tertekan karena tuntutan fans-nya sendiri.

Selain karena takut mengecewakan ekspektasi fans, tekanan juga datang dari aksi para fans yang marah-marah secara berlebihan akibat hasil buruk yang didapat oleh tim dan pemain.

Jika sudah di level profesional, sebetulnya pemain sepakbola adalah lebih dari seorang atlet yang datang ke lapangan untuk melakukan aksi olahraga dan berkompetisi demi kemenangan. Mereka menjadi layaknya artis yang digandrungi banyak penggemar dan tiap gerak-geriknya sulit luput dari perhatian publik.

Phil Jones

(Phil Jones saat bermain di Manchester United era kepelatihan Jose Mourinho)

Selain itu, perasaan seorang pemain tidak sesederhana senang jika menang dan sedih jika kalah, masih banyak hal-hal lain yang bisa menentukan perasaan pesepakbola, seperti baik buruknya performa, cemoohan dan dukungan para fans, komunikasi dengan rekan setim, dan lain-lain.

Kesehatan mental menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan bagi para pesepakbola. Mereka bukanlah robot yang di-setting untuk bermain bagus setiap saat, yang bisa diservis apabila mengalami kerusakan dan bisa di-upgrade begitu saja apabila dirasa kurang.

Mereka juga merupakan manusia biasa. Selain fisik, emosi dan perasaan juga mereka miliki dan dapat menentukan kualitas perfmorma mereka di lapangan.

Layaknya pengisi acara, pesepakbola juga tak jarang mengalami demam panggung. Belum lagi diteriaki “booo”, sampai yang paling parah adalah penghinaan latar belakang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertandingan.

Ambil contoh stadion terbesar yang ada di Indonesia, Gelora Bung Karno. Stadion yang kerap disebut GBK itu memiliki kapasitas 77.193 kursi.

SUGBK

(Penampakan Stadion Utama Gelora Bung Karno)

Bayangkan Anda adalah seorang pemain sepakbola yang harus bermain di sana, lalu, tidak sengaja menceploskan bola ke gawang sendiri. Kemudian, Anda mencoba merasakan atmosfer yang terjadi di sana.

Akan ada banyak reaksi yang timbul akibat aksi blunder yang Anda buat. Mulai dari cacian, tawa penghinaan hingga tangis dari pendukung berat Anda yang sudah jauh-jauh bertandang ke Jakarta. Terlebih, kejadian seperti itu biasanya akan tinggal lama di memori para penonton, berikut disertai dengan cemoohan.

Bagi orang yang punya mental kurang kukuh, kejadian seperti itu bisa berujung pada trauma dan menurunnya kepercayaan diri. Dengan begitu, performa buruk di laga-laga ke depan boleh jadi merupakan salah satu dampaknya.

Jadi, kesehatan mental juga punya andil besar bagi para pemain sepak bola dan tidak kalah penting dengan kesehatan fisik.

Memang, badan mereka terlihat begitu fit, semringah tiap kali merayakan gol, dan murah tersenyum untuk para fans. Tapi di hati yang paling dalam, apakah mereka jujur atas apa yang mereka ekspesikan?

Bagaimana dengan masalah keluarga? masalah gaji? konflik dengan rekan? rasa takut akan cedera? hinaan dari penonton? hal-hal seperti inilah yang bisa memperburuk kesehatan mental pemain, yang juga bisa menyebabkan badan mereka di lapangan tetapi pikiran melayang entah ke mana.

Alvaro Morata, salah satu penyerang yang paling terkenal di dunia juga pernah mengalami tekanan akibat olok-olokan para penggemar.

Pada Piala Eropa 2020, Alvaro Morata sempat beberapa kali dianggap menjadi dalang dari kurang tajamnya daya serang Timnas Spanyol. Alhasil, Ia mendapat banyak sekali kritikan dari para penggemar.

Alvaro Morata

(Alvaro Morata, penyerang Atletico Madrid dan Timnas Spanyol)

Menurut Morata, apa yang Ia tunjukkan di lapangan memang pantas untuk dikritik. Namun, beberapa kali lontaran kritik itu sudah melewati batas. Sampai-sampai istri dan anak Morata juga dilibatkan dan diancam untuk dibunuh.

Meski sudah dibela oleh rekan dan pelatihnya sendiri, Alvaro Morata tetap memilih untuk berbicara langsung ke media terkait masalah ini. Ia mengaku, akibat dari ancaman-ancaman ini adalah Ia mengalami gangguan tidur.

Bisa dibayangkan bagaimana rasa takut yang datang tatkala istri dan anak terkena ancaman pembunuhan karena ulah kita sendiri, walaupun sama sekali tidak masuk akal.

Alvaro Morata juga sempat mengaku pernah rutin mengonsultasikan masalah mentalnya ke psikolog saat masih berseragam Chelsea. Kala itu, Ia menyadari bahwa permainan buruknya dikarenakan kondisi mental yang tidak stabil.

Alvaro Morata

(Alvaro Morata saat memperkuat Chelsea)

Alvaro Morata juga menyebut depresi merupakan penyakit yang butuh disembuhkan, sama halnya dengan patah engkel. Kasus tekanan mental yang berujung pada keputusasaan pernah beberapa kali terjadi di dunia sepakbola.

Salah satu penyerang paling andal dari Skotlandia, Hughie Ferguson, memutuskan untuk bunuh diri setelah merasa kariernya mulai meredup. Dalam 14 musim berkarir di dunia profesional, setengahnya ia lalui sebagai pencetak gol terbanyak.

Motherwell dan Cardiff City menjadi klub yang pernah merasakan derasnya keran gol Ferguson. Namun nahas, di klub ketiganya pada level senior, Dundee United, Ferguson gagal mempersembahkan yang terbaik bagi klubnya.

Dari 17 laga yang dijalani, Ia hanya mampu menyetak 2 gol. Sungguh berbanding terbalik dari raihan gol di dua klub sebelumnya. Usut punya usut, ternyata ia mengalami masalah pada kakinya yang membuatnya sukar untuk berlari.

Hal ini juga memengaruhi kelihaiannya dalam mengolah si kulit bundar, diperparah mulai didepaknya Ia dari posisi tim utama. Rentetan nasib apes ini membuat Ferguson mengalami depresi dan insomnia. Akhirnya, pada tanggal 8 Januari 1930, Ia ditemukan tewas bunuh diri di Dens park, Skotlandia.

Selain Ferguson, Ernest King, eks-pelatih dari klub West Ham United juga mengalami depresi setelah reputasi dan kariernya kian menuju ke arah negatif. Ernest mengakhiri hidupnya di umur ke-59.

Dua belas tahun yang lalu, seorang kiper dari Jerman yang bernama Robert Enke juga mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyedihkan. Ia bunuh diri di umur yang masih terbilang produktif untuk seorang kiper yakni 32 tahun.

Robert Enke

(Robert Enke, mantan kiper Barcelona dan Timnas Jerman)

Alasannya melakukan ini diperkirakan karena depresi yang sudah ia alami selama 6 tahun. Ia pun dikabarkan sedang menjalani perawatan oleh psikiater saat itu. Kalau yang lebih pop, Gabriel Batistuta, juga pernah dilanda stres. Pasca pensiun, ia mengalami cedera parah hingga meminta agar kakinya diamputasi saja. Permintaan itu disinyalir muncul saking Ia tak kuasa menahan rasa sakit. Namun, kini keadaan Batistuta berangsur membaik jika dilihat dari unggahannya di-Instagram.

Untuk menghindari kejadian menyedihkan seperti itu, pentingnya kesehatan mental para pesepakbola harus lebih disuarakan lagi. Adanya psikolog olahraga di tiap klub sudah sangat membantu untuk menjaga mental para pemain, tetapi sebagai penonton, kita juga dapat berkontribusi dengan menebarkan pesan suportif dan tidak kelewatan saat mengkritik para pemain.

Gabriel Batistuta

(Gabriel Batistuta, bantu AS Roma juara Liga Italia 2000-2001)

Sekaligus merayakan World Mental Health Day, melalui tulisan ini saya ingin mengapresiasi para pesepakbola yang sudah mati-matian berjuang di lapangan dan berusaha memberikan yang terbaik bagi klub, fans dan keluarga sekalipun sedang mengemban masalah.

Tidak seperti luka fisik, memang gangguan mental tidak mudah dilihat oleh kasat mata. Karena itu, inisiatif dari orang sekitar untuk memastikan juga merupakan hal yang penting untuk mencegah kasus-kasus menyedihkan yang sudah disebutkan di atas kembali berulang.

Di sini, saya juga ingin mengatakan kalau pergi ke ahli dan melakukan pengobatan terkait gangguan mental bukanlah sebuah aib, di luar sana, banyak sekali psikolog yang secara terbuka siap melayani dan mendampingi kita lewat konsultasi.

Terakhir, pesan bagi para pesepakbola, janganlah segan untuk menceritakan masalah yang dirasakan kepada orang terdekat atau para ahli agar tidak lagi terjadi kejadian menyedihkan seperti yang sudah-sudah.

Semoga, ke depannya fasilitas penanganan mental juga bisa ditingkatkan kualitasnya serta diperbanyak kutantitasnya. Untuk para fans dan penonton sepakbola, semoga ke depannya kita semua lebih memperhatikan lagi kondisi mental pemain jagoan kita. Karena sepatah dua patah kata menyakitkan yang keluar dari mulut kita, bisa tinggal bertahun-tahun di hati pemain dan dapat berakibat buruk pada psikis mereka.

Mengutip dan memodifikasi sedikit apa kata Seurieus Band, rocker pesepakbola juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan mereka dengan pisau belati!

Penulis: Dimas Adytya Putranto aktif di Persma Erythro, Fakultas Psikologi, Universitas Sebelas Maret.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini