MANCHESTER – Menjabat sebagai pelatih interim Manchester United hingga pengujung musim 2025-2026 bukan perkara mudah bagi Michael Carrick. Di tengah tekanan kursi panas Old Trafford, pria asal Tyneside ini harus berhadapan dengan kritik tajam dari para mantan rekannya sendiri.
Namun, di balik riuh rendah komentar miring tersebut, Carrick memiliki satu nama yang selalu ia tempatkan di kasta tertinggi sebagai rekan setim terbaiknya selama memperkuat Man United.
Bukan Cristiano Ronaldo dengan tumpukan Ballon d'Or-nya, bukan pula Wayne Rooney sang pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub. Pilihan Carrick jatuh pada sosok yang justru belakangan ini vokal mengkritiknya di media sosial, Paul Scholes.
Meski Paul Scholes sempat melontarkan kritik pedas terhadap performa Man United di bawah asuhan Carrick, bahkan sampai menggunakan kata-kata kasar di Instagram setelah kekalahan dari Newcastle, hal itu tidak melunturkan rasa hormat Carrick. Baginya, Scholes adalah seorang jenius yang tak tertandingi sejak mereka mulai berduet pada tahun 2006.
"Saya selalu menyebut Scholes karena dia berada tepat di samping saya. Sebagai mitra, dia sangat luar biasa untuk diajak bermain bersama," ungkap Carrick dalam wawancaranya bersama The Mirror, dikutip Minggu (8/3/2026).
Loyalitas Carrick pada opini ini sangat kuat. Meski banyak orang heran mengapa ia tidak memilih Ronaldo atau Ryan Giggs, Carrick menegaskan chemistry yang mereka jalin dalam 160 pertandingan adalah sesuatu yang spesial.
Kelima gelar Premier League yang diraih Carrick semuanya didapat saat ia bahu-membahu bersama sang Scholes.
"Saya paham (maksud orang-orang). Di sana ada Giggsy (Ryan Giggs), Wazza (Wayne Rooney), Rio (Ferdinand), saya bisa terus menyebutkan nama lainnya untuk waktu yang lama. Tapi saya punya hubungan yang luar biasa dengan Scholesy, karena bermain sangat dekat dengannya sebagai rekan duet dalam waktu yang begitu lama,” sambung Carrick.