DEPOK – Shayne Pattynama angkat bicara soal kritik yang menghampirinya usai bergabung ke Persija Jakarta. Ia cukup keberatan ketika disebut pindah ke liga yang jelek.
Shayne secara mengejutkan hengkang dari klub teras Thailand, Buriram United, ke Persija. Pemain 27 tahun itu menambah daftar pemain diaspora yang berkarier di Super League mulai 2025-2026.
Keputusannya bergabung ke Persija tentu menjadi kabar gembira bagi The Jakmania. Tapi di sisi lain, pilihannya menuai kritikan dari pencinta sepakbola Tanah Air yang menyayangkan Shayne tidak lagi berkarier di luar negeri.
Shayne memahami fans menginginkan pemain idolanya bermain di kompetisi terbaik. Tapi, ia juga meminta kepada publik untuk menyadari kompetisi sepakbola Indonesia saat ini sedang berkembang.
“Tentu saja orang-orang selalu mengkritik. Dan saya paham itu. Orang-orang ingin kami, para pemain, bermain di liga terbaik yang memungkinkan,” kata Shayne kepada wartawan termasuk Okezone, dikutip Kamis (29/1/2026).
“Tapi di sisi lain, orang juga perlu memahami kami sebagai sebuah negara sedang berkembang dalam hal sepakbola. Kami sedang membangun liga yang lebih baik. Tim nasional juga semakin berkembang,” sambung eks pemain Viking FK itu.
Shayne cukup menyayangkan komentar netizen yang menyebut kompetisi di Tanah Air jelek. Menurutnya, itu sama saja merendahkan Indonesia. Baginya, kehadiran sejumlah pemain diaspora ke Super League bisa mendorong perkembangan sepakbola di sini.
“Saya merasa ketika ada orang yang berkata, ‘Jangan ke Indonesia. Jangan main di liga ini, liganya jelek,’ itu seperti merendahkan Indonesia. Menurut saya itu tidak baik, karena kami sedang bertumbuh,” terang Shayne.
“Banyak waktu, tenaga, dan usaha yang dicurahkan oleh federasi, oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, oleh pihak liga, dan semua pihak yang terlibat untuk membawa kompetisi ke level berikutnya. Dan jika ingin tim nasional berkembang, liganya juga harus berkembang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Shayne meminta semua pihak bersatu untuk mendukung perkembangan sepakbola Indonesia. Ia tak ingin orang-orang beranggapan para pemain diaspora yang melanjutkan kariernya di Super League sudah ‘menyerah’ bersaing di liga luar negeri.
“Kita perlu saling membantu untuk berkembang—baik suporter, pemain, mau pun semua pihak. Kalau hanya berbicara negatif dan terus mengkritik, ya kritik memang perlu, tapi harus seimbang,” pinta Shayne.
“Jadi menurut saya, orang-orang seharusnya tidak terlalu negatif terhadap Indonesia, karena itu sama saja merendahkan negara sendiri. Itu pendapat saya. Tapi tentu saja, setiap orang berhak memiliki opininya masing-masing,” pungkasnya.
(Wikanto Arungbudoyo)