LISBON – Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Thomas Tuchel, memuji gaya bermain Atalanta unik. Namun, keunikan tersebut justru membuatnya ketar-ketir jelang pertemuan kedua kesebelasan pada laga Perempatfinal Liga Champions 2019-2020, Kamis 13 Agustus dini hari WIB, di Stadion Da Luz, Lisbon, Portugal.
Lini depan Atalanta merupakan salah satu yang paling mengerikan di Eropa. Betapa tidak, La Dea mampu menggelontorkan 115 gol di semua kompetisi sepanjang 2019-2020. Menariknya, sebaran gol mereka cukup merata.
Pemain tersubur musim ini dipegang oleh Josip Ilicic dengan 21 gol di semua kompetisi. Menyusul kemudian ada Luis Muriel dan Duvan Zapata dengan masing-masing 19 gol. Berikutnya ada gelandang Mario Pasalic dengan 11 gol dan yang mengejutkan, wingback Robin Gosens dengan 10 gol.
Baca juga: Gasperini Lebih Senang Atalanta vs PSG Dimainkan Dua Leg
Sistem permainan racikan Gian Piero Gasperini memang memberikan keleluasaan bagi pemain untuk merangsek ke depan, termasuk para bek. Atalanta beberapa kali mampu membanjiri lini pertahanan lawan hingga unggul jumlah personel guna meningkatkan peluang mencetak gol.
Thomas Tuchel menyebut strategi Atalanta itu unik. Selain berani menghadapi lawan dalam situasi satu lawan satu nyaris di semua petak lapangan, Gli Orobici juga kejam saat menyerang sehingga bisa mencetak banyak gol.
“Sangat sulit melawan Atalanta. Ini adalah tantangan besar, tetapi selalu ada kemungkinan. Atalanta punya gaya main yang unik, selalu berani satu lawan satu di semua area lapangan. Mereka menyerang dengan tujuh orang pemain di area lawan,” tutur Thomas Tuchel, sebagaimana dilansir dari Football Italia, Rabu (12/8/2020).
Arsitek tim berkebangsaan Jerman itu masih melihat ada celah pada strategi Atalanta. Namun, untuk bisa memanfaatkan celah itu, PSG harus mampu bermain baik sebagai tim. Selain soal adu taktik, laga melawan Papu Gomez dan kawan-kawan juga membutuhkan mental yang kuat.
“Mereka sudah mencetak banyak gold an merupakan sebuah tim yang hebat. Ada banyak kesempatan untuk menemukan ruang, tetapi kami harus bermain sangat baik,” imbuh pria berusia 46 tahun itu.
“Ini akan menjadi pertandingan sarat adu taktik, tetapi juga mental. Sesi latihan terakhir kami adalah gabungan dari konsentrasi dan semangat tim yang tinggi. Kami menderita bersama-sama, tetapi juga berjuang bersama-sama,” tutup mantan Pelatih Borussia Dortmund itu.
Kepala Thomas Tuchel dipastikan akan sedikit pusing untuk meramu strategi yang tepat. Sebab, ia tidak bisa menurunkan sejumlah pemain kunci seperti Marco Verratti yang cedera dan Angel Di Maria yang dihukum larangan bermain. Sedangkan Kylian Mbappe belum 100% bugar sehingga tidak bisa diturunkan penuh.
(Ramdani Bur)