Pelatih Persib Bandung Kesulitan Bikin Tim Kompak, Kenapa?

Annisa Nurinsani, Jurnalis · Rabu 07 Juli 2021 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 07 49 2436991 pelatih-persib-bandung-kesulitan-bikin-tim-kompak-kenapa-Sfsedbne9a.jpg Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts. (Foto: Persib.co.id)

BANDUNG - Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts, dipusingkan dengan ketidakpastian Liga 1 2021-2022. Sebab, beberapa kali rencana digulirkannya kompetisi gagal terwujud. Bahkan, turnamen Piala Wali Kota 2021 pun urung digelar.

Hal ini membuatnya bingung menyusun program latihan. Bahkan, program yang sudah disusun berkali-kali buyar. Dia bahkan harus menyusun ulang program latihan.

Persib Bandung

(Suasana lathan Persib. (Foto: Persib.co.id)

Kondisi ini bertambah pelik karena Marc Klok dan Mohammed Rashid baru bergabung dengan tim. Hanya dua kali berlatih dengan tim, kedua pemain itu harus mengikuti program latihan mandiri sama seperti pemain lain.

Itu karena Persib menyesuaikan program latihan dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat terhitung 3-20 Juli 2021. Dengan program latihan mandiri, praktis Klok dan Rashid kehilangan waktu untuk bisa segera klop bersama pemain lain.

Selain itu, secara umum dia juga merasa kesulitan membangun tim menjadi kekuatan tangguh. Sebab, ia tak leluasa menjalankan program latihan dengan situasi yang ada.

BACA JUGA: Efek PPKM Darurat, Kiper Persib Bandung Jadi "Tukang Cuci"

"Kami tidak bisa membangun tim, tidak hanya kebugaran pemain, tapi juga dari segi pemahaman antara satu pemain dengan pemain lainnya di dalam tim," kata Robert.

Pria berpaspor Belanda itu berharap segera ada kepastian kapan kompetisi digelar. Sehingga, tim pelatih bisa merumuskan program yang sesuai dengan kebutuhan dan jadwal kompetisi.

Robert Rene Alberts

(Pelatih Persib, Robert Rene Alberts. (Foto: Persib.co.id)

Dia pun berharap tak ada lagi penundaan jika kelak diumumkan kapan kompetisi digelar. Sebab, membatalkan rencana kick off sama saja membuyarkan program latihan yang sudah disusun dan dijalankan.

"Kita perlu memperhatikan dengan baik karena tidak mungkin setiap kami mulai persiapan, tiba-tiba semuanya harus terhenti dan saya harus bilang itu sangat mengecewakan," jelasnya.

Robert pun kembali menegaskan tak mengerti dengan situasi sepakbola di Indonesia. Sebab, ketika negara lain sudah menggulirkannya sejak tahun lalu, di Indonesia kompetisinya bahkan terhenti lebih dari setahun.

"Saya masih kesulitan dalam memahami kebijakan ini karena melihat negara lain sangat berbeda," ucap Robert.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini