Penulis: Ahmad Setyono, Jurnalis dan Penggemar Sepak Bola
“Mr. Speaker, it would be remiss of me not to comment on one of Manchester’s great heroes, moving on after almost of decade. So let me congratulate Pep Guardiola on all his success at Manchester City. And Mr. Speaker, if I could declare an interest, I’d also like to say congratulations to Arsenal Football Club on becaming the Premier League Champions.”
Statemen ini dilontarkan PM Keir Starmer di forum resmi Parlemen Inggris 20 Mei 2026 dalam Session of Prime Minister's Questions. Padahal beberapa jam sebelumnya melalui platform X Starmer telah mengucapkan selamat kepada Arsenal setelah menjadi juara Liga Inggris 2025-2026. Seakan belum cukup, ia pun menggunakan agenda kenegaraan untuk mengucapkan selamat untuk klub kesayangannya.
Walikota New York, Zohran Mamdani sebagai fans berat Arsenal juga mengungkapkan kegemberiaannya setelah 22 tahun menunggu. Bahkan Mamdani mengaku melihat selebrasi Rice, Saka, Eze dan Timber bersama para fans di Stadion Emirates beberapa jam setelah kepastian juara.
Di tanah Afrika, Presiden Kenya, William Samoei Ruto melalui platform X juga menulis “Mengikuti petualangan epik Arsenal telah menjadi pengalaman yang luar biasa. Dari masa perjuangan dan kemunduran yang menghancurkan, hingga musim demi musim pemulihan dan kebangkitan dalam jalan mereka yang mulia menuju puncak Liga Primer Inggris.”
Sementara di Tanah Air, sejumlah tokoh dan selebritis fans Arsenal juga meluapkan emosi di media sosial. Tantowi Yahya di akun IG menggugah komentar mantan pemain Manchester United, Paul Scholes yang nyinyir ke Arsenal. Tantowi menulis: “Oke deh mas Paul. Sampai jumpa di musim berikutnya. Kami tunggu komentar-komentarmu.”
Ekspresi sejumlah tokoh dunia di atas hanya sebagian yang terekspos di media sosial. Reaksi kesuksesan klub kesayagannya. Lantas bagaimana reaksi para penggemar Arsenal yang bukan kalangan elit? Ratusan ribu fans Arsenal memadati Stadion Emirates dan ribuan lainnya di berbagai pelosok dunia turun ke jalan.
Legenda Manchester United, Roy Keane Roy Keane mengakui perayaan global setelah Arsenal memenangkan Premier League terasa sangat berbeda dari apa pun yang pernah ia lihat sebelumnya. “Ini terasa istimewa. Semua orang di seluruh dunia tahu Arsenal telah memenangkan gelar — bahkan orang-orang yang tidak menonton sepak bola. Perayaan di seluruh dunia benar-benar gila,” kata Keane.
Tak hanya Keane. Legenda Liverpool yang kini menjadi pundit Jamie Carragher pun kagum tentang reaksi global terhadap Arsenal yang memenangkan Liga Premier. “Saya akhirnya menyadari mengapa tidak ada yang ingin Arsenal memenangkan liga.” Carragher mengakui bahwa skala perayaan Arsenal di seluruh dunia belum pernah ia lihat dalam sepak bola modern.
“Tunjukkan pada saya tim lain yang memenangkan trofi dan merayakannya seperti Arsenal — jalan-jalan padat di mana-mana, media sosial meledak di seluruh dunia. Dunia selalu takut akan ini,” papar Carragher.
Fenomena dampak global atas kemenangan Arsenal di berbagai belahan dunia tersebut bisa kita lihat dalam bentuk keterikatan emosional dan identifikasi yang kuat terhadap suatu klub. Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dikaji melalui beberapa perspektif untuk memahami bagaimana identitas terbentuk, kelompok berkomunikasi dan pesan media memengaruhi perilaku suporter.
Menurut Teori Identitas Sosial yang dikembangkan Henri Tajfel, seseorang mendefinisikan diri mereka berdasarkan keanggotaan dalam kelompok seperti suporter klub tertentu yang kini begitu banyak di tanah air. Tajfel menjelaskan suporter mengadopsi identitas tim sebagai bagian dari citra diri mereka. Kemenangan tim meningkatkan harga diri, sementara kekalahan dapat memicu agresi atau kecemasan karena dianggap sebagai ancaman terhadap identitas mereka.
Kemenangan atau kekalahan klub dianggap sebagai pencapaian atau kegagalan pribadi mereka, yang memicu polarisasi emosi yang kuat. Para pendukung klub-klub akan menujukkan kemenangan timnya di media sosial dengan konten-konten kreatifnya maupun dalam status plaftform masing-masing. PM Keir Starmer menunjukkan kebanggaannya atas kemenangan Arsenal di sebuah forum kenegaraan Parlemen Inggris meski jelas ini sebenarnya urusan individual sebagai pendukung sebuah klub.
Ikatan emosional penggemar dengan klub dan juga rivalitas antar pendukung kini makin kuat karena pengaruh media. Menurut George Gerbner dalam teori Kultivasi, media (televisi dan media sosial) sebagai suatu kekuatan yang dominan dan tidak terbatas dalam kehidupan di era modern. Bahkan Gerbner menyebut televisi -dan media sosial- sebagai agama baru.
Peran media (televisi dan media sosial) dalam membentuk persepsi dan perilaku supporter begitu kuat. Paparan media yang terus-menerus mengenai rivalitas antar klub, drama-drama pertandingan -apalagi dengan fenomena VAR, dan narasi heroisme klub membentuk realitas suporter. Di era digital, algoritma media sosial memicu echo chamber yang memperkuat keyakinan “ekstrem” dan terkadang mendorong tidak ada toleransi perbedaan sudut pandang.
Euforia selebrasi dan berbagai konten terkait gelar ini masih terus trending dan viral hingga lebih dar 3 hari) di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Tak hanya mengakhiri dahaga gelar selama 22 tahun namun juga membungkam meme, cibiran, olok-olok nyaris juara, spesialis runner up.
Indikator Politik akhir tahun 2022 merilis hasil survei tentang klub favorit masyarakat Indonesia terhadap klub-klub luar negeri. Hasilnya Barcelona dan Manchester United merupakan klub paling digemari masyarakat masing-masing memperoleh 9,8%. Disusul Real Madrid 7,8%, Liverpool 3,3% dan Arsenal 2,9%. Dari 10 klub paling digemari masyarakat Indonesia, 5 klub berasal dari Liga Inggris. Selain 3 klub yang masuk 5 besar tadi, 2 klub lainnya adalah Chelsea dan Manchester City.
Data yang menarik dari survei Indikator Politik ini adalah tentang seberapa sering responden menonton klub kesayangannya bermain. Dari 7 klub terbanyak yang ditonton, Arsenal adalah satu-satunya klub yang selalu ditonton saat bermain. Sedangkan 6 klub lainnya, ada penggemarnya yang tidak menonton sama sekali.
Bisa jadi eforia kemenangan Arsenal secara global yang diakui Roy Keane dan Jamie Carragher di atas sebagai efek dari loyalitas para pendukungnya. Demikian juga barangkali fenomena di tanah air kalau melihat hasil survei Indikator Poliik di atas terhadap pendukung Arsenal di Indonesia. Banyak tokoh dan selebs pendukung Arsenal di tanah air meluapkan antusias dan kebanggaannya di media sosial. Antara lain Tantowi Yahya, Najwa Shihab, Vincent Rompies, Rifky Balweel, Yustinus Prastowo dan Jarwo Kwat.
(Rivan Nasri Rachman)