Dampak Arsenal Juara: Munculnya Suporter Paling Berisik di Dunia

Opini, Jurnalis
Minggu 24 Mei 2026 13:27 WIB
Arsenal juara Liga Inggris 2025-2026. (Foto: Instagram/arsenal)
Share :

Identitas Diri dan Fanatisme

Fenomena dampak global atas kemenangan Arsenal di berbagai belahan dunia tersebut bisa kita lihat dalam bentuk keterikatan emosional dan identifikasi yang kuat terhadap suatu klub. Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dikaji melalui beberapa perspektif untuk memahami bagaimana identitas terbentuk, kelompok berkomunikasi dan pesan media memengaruhi perilaku suporter.

Menurut Teori Identitas Sosial yang dikembangkan Henri Tajfel, seseorang mendefinisikan diri mereka berdasarkan keanggotaan dalam kelompok seperti suporter klub tertentu yang kini begitu banyak di tanah air. Tajfel menjelaskan suporter mengadopsi identitas tim sebagai bagian dari citra diri mereka. Kemenangan tim meningkatkan harga diri, sementara kekalahan dapat memicu agresi atau kecemasan karena dianggap sebagai ancaman terhadap identitas mereka.

Kemenangan atau kekalahan klub dianggap sebagai pencapaian atau kegagalan pribadi mereka, yang memicu polarisasi emosi yang kuat. Para pendukung klub-klub akan menujukkan kemenangan timnya di media sosial dengan konten-konten kreatifnya maupun dalam status plaftform masing-masing. PM Keir Starmer menunjukkan kebanggaannya atas kemenangan Arsenal di sebuah forum kenegaraan Parlemen Inggris meski jelas ini sebenarnya urusan individual sebagai pendukung sebuah klub.

Arsenal juara Liga Inggris 2025-2026. (Foto: Instagram/arsenal)

Ikatan emosional penggemar dengan klub dan juga rivalitas antar pendukung kini makin kuat karena pengaruh media. Menurut George Gerbner dalam teori Kultivasi, media (televisi dan media sosial) sebagai suatu kekuatan yang dominan dan tidak terbatas dalam kehidupan di era modern. Bahkan Gerbner menyebut televisi -dan media sosial- sebagai agama baru.

Peran media (televisi dan media sosial) dalam membentuk persepsi dan perilaku supporter begitu kuat. Paparan media yang terus-menerus mengenai rivalitas antar klub, drama-drama pertandingan -apalagi dengan fenomena VAR, dan narasi heroisme klub membentuk realitas suporter. Di era digital, algoritma media sosial memicu echo chamber yang memperkuat keyakinan “ekstrem” dan terkadang mendorong tidak ada toleransi perbedaan sudut pandang.

Euforia selebrasi dan berbagai konten terkait gelar ini masih terus trending dan viral hingga lebih dar 3 hari) di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Tak hanya mengakhiri dahaga gelar selama 22 tahun namun juga membungkam meme, cibiran, olok-olok nyaris juara, spesialis runner up.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya