Ketika Pesepakbola Profesional Indonesia Main Tarkam Supaya Dapur Tetap Ngebul

Antara, Jurnalis
Selasa 01 Desember 2020 21:49 WIB
Ilustrasi bola.
Share :

Dapur yang Harus Ngebul


(Suasana latihan Arema FC)

Kita mungkin sepakat, bermain di tarkam memang bukan keinginan para pemain profesional atau mungkin menjadi opsi terakhir agar bisa tetap menyambung hidup. Jika menilik pada dokumentasi berita-berita terdahulu, sudah tak terhitung berapa banyak pemain sepak bola kita yang wajahnya terpampang di koran-koran tengah mempermalukan dirinya ikut tarkam.

Apalagi di era digital saat ini, tidak sulit untuk mencari dokumentasi pemain profesional yang ikut tarkam. Saddil Ramdani dan Bayu Gatra menjadi yang terbaru meski pada akhirnya mereka mengonfirmasi bahwa keduanya tak ikut dalam tarkam tersebut.

Sebagai seorang atlet, tingkat kebugaran dan sentuhan bola tentu harus terus dijaga. Semakin lama seorang pesepakbola tidak bertanding, semakin menurun kebugaran dan ball feeling pemain tersebut.

Sudah masuk dalam hitungan sembilan bulan pemain tak berkompetisi secara kompetitif. Meski mereka selalu berlatih mandiri, tapi bukan jaminan pula sentuhan, kebugaran, dan mental bertanding akan tetap terjaga.

Di samping menjaga kondisi kebugaran, faktor pendapatan menjadi momok utama. PSSI telah menerbitkan surat keputusan yang isinya klub berhak memangkas gaji pemain hingga 75 persen dari nilai kontrak. Atau dengan kata lain, pemain hanya digaji seperempatnya saja dalam ketiadaan kompetisi.

Nilai itu berdasarkan perhitungan PSSI dengan dasar asumsi semua pihak terkena imbas dari pandemi COVID-19 sehingga pemain harus mafhum atas segala keputusan tersebut.

Di sisi lain, angka tersebut terutama bagi para pemain yang menggantungkan hidupnya dari sepak bola semata, tentu berat dan mereka harus memutar otaknya agar nominal tersebut bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Belum lagi jika klub menunda atau memangkas lagi gaji karena sama-sama tak ada pemasukan. Kucuran sponsor terhenti, pendapatan dari tiket tak ada, pemangkasan dana subsidi dari operator kompetisi pun bisa saja terjadi.

Padahal ada istri yang dapurnya harus tetap ngebul, ada anak yang merengek jajan, sehingga pada akhirnya para pemain ada dalam batas melakukan pekerjaan apa saja demi menghidupi keluarganya, termasuk bermain di tarkam.

Maka, ketimbang mencaci-maki para pemain yang bermain tarkam demi keberlangsungan hidup mereka, akan lebih baik jika kita melimpahkan energi dan emosi untuk mencari jawaban, kenapa pandemi tak kunjung usai? Temuan kunci jawaban ini akan menyelesaikan banyak persoalan, termasuk dilema tarkam.

(Fetra Hariandja)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya