Hal itu karena Juventus membutuhkan pelatih yang berpengalaman memenangi trofi Liga Champions, dalam kapasitasnya sebagai juru taktik. Setelah era Fabio Capello (2004-2006), Juventus tidak pernah lagi memiliki pelatih yang berpengalaman meraih trofi si Kuping Besar.
Imbasnya, Juventus pun tidak pernah lagi menjadi yang terbaik di Eropa. Karena itu dengan menunjuk Guardiola, harapannya Juventus dapat mengembalikan hegemoni mereka di Eropa yang pernah berlangsung pada dekade 1990-an. Saat itu, Juventus sempat tiga kali masuk final Liga Champions dalam periode tersebut.
Meski begitu, peluang Juventus mengakhiri paceklik trofi Liga Champions terbuka musim ini. Saat ini, langkah Juventus sudah tiba di perempatfinal dan akan bertemu Ajax Amsterdam di fase tersebut.
(Ramdani Bur)