Pemain PSMS: Kemana Lagi Harus Mengadu?

Decky Irawan Jasri, Jurnalis
Selasa 18 Juni 2013 19:31 WIB
Demo pemain PSMS.(foto:Alfa Mandalika)
Share :

JAKARTA – Jika PT Liga Indonesia (Liga), PSSI, dan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sudah disambangi namun belum ada titik terang kejelasan. Harus kemana lagi kesebelas pemain PSMS Medan yang tengah memperjuangkan nasibnya harus mengadu?
 
10 bulan belum mendapatkan haknya, sebelas pemain klub berjuluk Ayam Kinantan ini pun memberanikan diri datang ke Jakarta. Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Lebih dari sepekan meminta kejelasan soal pelunasan hak-haknya tersebut, sampai detik ini belum ada sedikit pun secercah harapan yang didapat.
 
Kesebelas pemain PSMS tersebut memang terbilang berani untuk datang ke Jakarta, tanpa berbekal persiapan yang memadai. Hal hasil, Mesjid Al-Bina, Jakarta, Monumen Nasional (Monas), dan teras kantor PSSI terpaksa jadi tempat mereka berteduh. Apalah layak, tentu saja jauh dari layak.
 
Menggelandang, itulah satu kata yang mungkin tepat menggambarkan bagaimana nasib para pemain PSMS tersebut. Pilihan tersebut diambil, setelah PSMS menjalani laga tandang kontra PS Bangka di Stadion Orom Sungailiat, Bangka, Minggu (9/6). Melihat pesawat yang membawa merasa transit di Jakarta, kesempatan itu pun diambil.
 
“Kami dari Bangka, rencanya mau pulang ke Medan. Namun, transit terlebih dahulu di Jakarta. Kami berpikir, kalaupun kami pulang pasti tidak akan ada tanggung jawab dari manajemen PSMS. Maka dari itu, kami memutuskan tinggal di Jakarta untuk bertemu petinggi Liga, PSSI, dan Menpora,” papar salah satu pemain PSMS, Irwin Ramadhan.
 
“Kami hanya memiliki dana Rp700 ribu untuk bertahan di Jakarta. Uang itu kami dapatkan dari penjualan 11 tiket kami kembali ke Medan,” timpal Ardhana, satu dari sebelas pemain PSMS yang juga ikut berjuang dalam menuntut haknya tersebut.
 
Satu hal saja sebenarnya yang ingin didapat kesebelas pemain PSMS tersebut ketika memutuskan ke Jakarta. Mereka hanya ingin dipertemukan dengan Ketua Umum (Ketum) PSMS Indra Sakti Harahap. Indra sendiri dinilai pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya tragedi tersebut.
 
Indra dinilai telah menelantarkan dan cenderung lepas dari tanggung jawab. Karena menurut para pemain PSMS tersebut, kesepakatan awal semuanya berjalan secara resmi. Tapi kenyataannya, gaji 10 bulan belum mereka dapatkan. Dari jangka waktu tersebut, baru di bulan Januari saja mereka mendapatkan bayaran, itu pun tidak dibayarkan secara penuh.
 
“Kalau ada jaminan hitam di atas putih, kami baru bisa menerima. Kami tidak mau tidak memiliki hasil, setelah berjuang seperti ini. Walaupun kami sebenarnya ingin sekali pulang, karena kami sudah sangat rindu dengan keluarga kami di Medan,” tutup Irwin.
 
Follow Twitter @bola_okezone

(Fitra Iskandar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya