SEBAGAI klub yang bercokol di Ibu Kota London, Inggris, Tottenham Hotspur tidak punya prestasi mentereng seperti halnya tetangga sekaligus rival berat mereka, Arsenal. Meski lebih dahulu berdiri, klub berlambang ayam jago ini hampir tidak bisa dibandingkan prestasinya dengan Si Gudang Peluru.
Sejauh ini Spurs hanya mampu merengkuh 2 gelar juara Liga Inggris kala masih bernama Divisi 1. Bandingkan saja dengan Arsenal yang membubukan rekor 13 kali juara Liga Inggris. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, nama Si Lili Putih malah lebih mentereng dibandingkan rival sedaerahnya.
Prestasi Spurs mulai menanjak seiring kedatangan Mauricio Pochettino pada awal musim 2014-2015. Si orang Argentina itu perlahan membenahi berbagai sisi plus menanamkan filosofi sepakbola atraktif yang sebelumnya ditampilkan di Southampton.

(Pochettino sukses bersama Tottenham Hotspur. Foto: AFP)
Sejak dibesut Poch, permainan Spurs justru lebih bertenaga. Apalagi, mantan pelatih Espanyol itu gemar mengorbitkan pemain-pemain muda. Tangan dinginnya setidaknya dapat terlihat pada diri Harry Kane yang kini menjadi penyerang kelas dunia.
Meski permainan kian atraktif, prestasi tak kunjung hadir. Akan tetapi, perlahan tapi pasti posisi akhir di klasemen Liga Inggris semakin meningkat. Musim pertama di bawah asuhan Poch, Spurs finis di posisi 5. Semusim kemudian mereka melesat ke posisi 3, lantas meningkat menjadi runner-up pada 2016-2017, dan kembali ke posisi tiga pada musim lalu.

Selama itu pula, Kane tampil sebagai top skor tim selama empat musim berturut-turut. Seiring matangnya striker berjuluk Hurrycane itu, harapan para penggemar kian tinggi untuk meraih gelar juara yang terakhir kali digenggam pada 1960-1961. Apalagi, Poch sudah menetapkan target untuk menjadi juara Liga Inggris 2018-2019.