Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

EKSKLUSIF: Bukan Trofi di Turnamen Touloun atau Gothia Cup, Ini yang Paling Berkesan di Karier Sepakbola Egy Maulana Vikri

Ramdani Bur , Jurnalis-Selasa, 26 September 2017 |20:04 WIB
EKSKLUSIF: Bukan Trofi di Turnamen Touloun atau Gothia Cup, Ini yang Paling Berkesan di Karier Sepakbola Egy Maulana Vikri
Egy Maulana meraih beragam trofi di usia muda. (Foto: Heru Haryono/Okezone)
A
A
A

EGY Maulana Vikri memang masih berusia 17 tahun. Namun, di usia remaja itu, beragam trofi baik bersama tim maupun individu telah didapatkannya. Pada pertengahan 2016, Egy yang dipinjamkan PPLP Ragunan ke ASIOP Apacinti membawa tim yang dimanajeri Ade Wellington menjuarai Gothia Cup U-15 di Swedia.

Egy pun menyabet dua penghargaan pribadi, yakni pemain terbaik dan top skor setelah mengemas 28 gol. Setahun berselang di Turnamen Toulon bersama Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19, Egy meraih trofi Jouer Revelation.

BACA JUGA: EKSKLUSIF: Raih Trofi Prestisius di Turnamen Toulon, Egy Maulana Vikri Mengira Hanya Dapat Gelar Man of the Match

Trofi itu dipersembahkan bagi pemain yang memiliki memiliki pengaruh besar di sebuah tim. Bahkan trofi itu sebelumnya pernah dimenangkan Zinezine Zidane pada 1991 dan Cristiano Ronaldo (2003).

Namun, saat Okezone bertanya apa yang paling berkesan selama menjadi pesepakbola, bukan keberhasilan memenangi dua trofi itu disebut Egy. Saat masih bermain sepakbola di Medan bersama Sekolah Sepakbola (SSB) Tasbih, Egy sempat dicurangi panitia turnamen sepakbola yang diikutinya.

BACA JUGA: EKSKLUSIF: Egy Maulana, Tekad Tampil di Kompetisi Eropa dan Belum Berpikir Bela Klub Liga 1

SSB Tasbih yang dimotori Egy lolos ke final meski akhirnya takluk. Meski begitu, Egy dinobatkan sebagai pemain terbaik dan layak mendapat trofi. Namun setelah ditunggu-tunggu, Egy urung menjadi pemain terbaik. Gelar pun diberikan kepada pemain lain.

“Saya masih ingat sampai sekarang. Saya ikut turnamen dan tim saya kalah di final. Namun, pembagian piala diberikan satu hari setelahnya dan di hari kekalahan itu, saya disebut keluar sebagai pemain terbaik. Keesokan harinya saat ingin ambil trofi pemain terbaik, saya ditelfon panitia bahwa gelar pemain terbaik saya dicabut dan digantikan pemain lain,” kata Egy dalam wawancara eksklusif yang dilakukan Okezone.

BACA JUGA: EKSKLUSIF: Sebelum Lionel Messi, Egy Maulana Ternyata Kagumi Arjen Robben

“Saat itu saya menangis. Ayah saya dan pelatih di SSB Tasbih sempat pusing. Untuk mengobati kekecewaan saya, ayah saya dan pelatih pura-pura membuat satu kategori yaki favorite player dan piala itu pun diberikan kepada saya. Saya baru tahu kalau itu hanya trofi bohongan saat saya sudah besar,” lanjut wakil kapten di Timnas Indonesia U-19 itu.

Melihat kondisi di atas, terlihat Egy memiliki bakat pesepakbola sejak kecil. Sekarang diharapkan, Egy dapat memoles skill olah bolanya agar semakin yahud demi berprestasi di level profesional, baik bersama klub maupun Tim Nasional.

(Ramdani Bur)

Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita bola lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement