Share

Tanggung Jawab Moral PT Liga Kontra Power BOPI

Kukuh Setiawan, Jurnalis · Jum'at 03 April 2015 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 03 49 1128529 tanggung-jawab-moral-pt-liga-kontra-power-bopi-CnVNGOA3rR.jpg (Foto: ilustrasi okezone)

KOMPETISI sepakbola di Indonesia tidak pernah sepi dari hiruk-pikuk. Setelah penundaan Indonesia Super League (ISL) yang semula direncanakan 26 Februari, kini keputusan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menjadi headline di berbagai media.

Arema Cronus dan Persebaya Surabaya diputuskan tak mendapat rekomendasi untuk bertarung di ISL 2015. Keputusan yang membuat berbagai kalangan maupun suporter terkejut dan heran bahwa kedua klub tersebut tak bisa bermain di ISL.

Seakan-akan semua percaya keputusan BOPI itu benar-benar menghentikan petualangan Singo Edan dan Bajul Ijo. Tidak, tidak sepenuhnya demikian. Mungkin saya adalah salah satu yang sejak semula percaya bahwa verifikasi BOPI tak akan mengubah komposisi peserta liga.

Saya punya alasan kuat kenapa Arema dan Persebaya akan tetap aman di bawah ketiak PT Liga Indonesia. Sedikit pun saya tidak percaya keduanya akan terlempar hanya kareba BOPI menganggap keduanya tak memiliki legalitas sebagai buntut dualisme di masa lalu.

Alasannya simpel, keduanya adalah loyalis PT Liga Indonesia. Merunut sejarah ke belakang, operator liga pimpinan Joko Driono memiliki hubungan harmonis dengan Arema Cronus atau yang dulu disebut Arema ISL dan itu masih tetap berlaku. Mari kembali ke musim 2012 silam.

Saat PT LIPS memiliki Indonesian Premier League (IPL), PT Liga Indonesia tetap melanjutkan kompetisi dan Arema ISL adalah salah satu pesertanya. Tanpa melihat bagaimana kondisi saat itu, kompetisi ISL terus berjalan dengan mengumpulkan klub-klub yang loyal.

Arema tak sempat lagi menyelesaikan konflik atau dualisme klub, karena operator liga masing-masing mencari pengaruh dengan merekrut klub yang setia. Arema ISL yang waktu itu masa depannya suram, menemukan kembali kehidupannya berkat eksistensi PT Liga.

Dari situ ada hubungan mutualis. Secara tak sadar ada pengakuan dan jaminan bahwa Arema ISL aman bersama PT Liga Indonesia. Kecuali terkena degradasi, Arema akan tetap akan menjadi peserta ISL dan tidak bisa dirontokkan keputusan siapa pun, termasuk BOPI. Itu sudah menjadi tanggung jawab moril PT Liga Indonesia.

Analisa saya menjadi kenyataan ketika Joko Driono mengatakan tak mungkin menggelar kompetisi tanpa Arema dan Persebaya, tepat setelah ada rilis dari BOPI. Itu memang manuver lumrah dilakukan operator liga, rela pasang badan karena Arema adalah salah satu klub yang berperan dalam bertahannya eksistensi PT Liga.

Persebaya juga demikian. Walau di awalnya tim yang dikenal Persebaya Divisi Utama ini diejek dengan sebutan Persikubar Surabaya, namun itu bukan persoalan karena dia yang berada di jalur PT Liga Indonesia. Persebaya adalah salah satu loyalis yang harus dijaga keberadaannya.

Apakah ini juga berlaku bagi klub ISL lainnya? Saya yakin iya. Jadi tidak perlu serius menyikapi verifikasi BOPI dengan rekomendasinya. Itu hanya verifikasi formalitas, tidak mungkin bisa memberangus tim yang sudah ada dalam lingkaran PT Liga Indonesia.

Titah PT Liga Indonesia jauh lebih manjur dibandingkan BOPI, Menpora, atau pihak lainnya. Lihat bagaimana Persik Kediri dan Persiwa Wamena manggut-manggut dan manut ketika harus lengser lebih dulu dari ISL karena gagal verifikasi. Apakah mereka bersikap serupa jika BOPI yang memutuskan? Impossible.

Perlawanan yang dilakukan Arema dan Persebaya dengan jelas menunjukkan mereka merasa memiliki power kuat, tentu dengan keyakinan didukung penuh PT Liga Indonesia. Dan memang dukungan itu benar-benar datang walau kedua klub tak memintanya.

Dengan menyesal saya katakan rekomendasi BOPI nyaris tiada guna. Dengan verifikasi, mungkin klub sedikit lebih tertib dalam administrasi, pajak, kontrak dan lain-lain. Tapi impian BOPI menyaring klub dengan tak memberikan rekomendasi, bukan pada porsi yang benar-benar tepat.

Bahkan memakai pikiran paling sederhana pun keputusan BOPI menjegal Persebaya dan Arema terlalu mudah dibantah. Jalannya kompetisi, termasuk komposisi kontestan liga, adalah wewenang penuh federasi yakni PSSI melalui PT Liga sebagai operator.

Soal legalitas perusahaan, seperti yang dipersoalkan BOPI itu sudah di ranah hukum dalam hal ini pengadilan. Saya melihat BOPI membuat 'perangkap' untuk mereka sendiri. Kredibilitas mereka terancam karena rekomendasi yang diberikan dengan mudah terbantah dan tak digubris klub.

BOPI mengira mereka adalah segala-galanya dan semua akan tunduk dengan semua keputusan yang dibuat. Nyatanya Arema dan Persebaya tetap melenggang dan tidak ambil pusing dengan rekomendasi yang diumumkan BOPI.

Jadi, kalau situasi begini, lucu juga kalau mengingat ISL sempat tertunda. BOPI menghadapi situasi di mana mereka sebelumnya anjing penjaga yang galak, tapi pada akhirnya berpotensi menjadi kucing jinak. Mari kita tunggu apakah BOPI cukup kuat untuk mempertahankan pendiriannya tak merekomendasi Persebaya dan Arema Cronus.

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini