Bos Bayern Peringatkan Fulham Soal Magath

Randy Wirayudha, Jurnalis · Senin 17 Februari 2014 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2014 02 17 45 942141 VzZL9fQmD7.jpg Wolfgang-Felix Magath (Foto: Reuters)

MUNICH – Inginnya selamat dari jurang degradasi dengan “menyewa servis” Felix Magath, Fulham malah berpotensi celaka. Kesangsian macam ini bukan tanpa sebab, apalagi peringatan soal sosok Magath dilayangkan salah satu tim yang pernah merasakan tangan besinya.

 

Terlepas dari empat gelar domestik yang pernah dipersembahkan Magath semasa 2004-07, Bayern Munich serasa ingin menghapus nama Magath dari buku sejarah mereka. Sosok Magath di mata petinggi-petinggi Bayern tidaklah meninggalkan kesan positif.

 

Tak segan, bos Bayern, Uli Hoeness menyebutnya sebagai pribadi yang gila kekuasaan, paranoid, selalu berprasangka negatif dan acap menguras kemampuan fisik pemain sampai di ambang batas kesehatan si pemain.

 

Tapi kini Magath merantau ke Liga Inggris bersama Fulham yang merekrutnya, menggantikan René Meulensteen guna menyelamatkan The Cottagers dari zona merah. Hoeness hanya bisa bersimpati dan menyilangkan jari agar rezim Magath, tak berakhir bencana buat publik Craven Cottage.

 

“Felix menginginkan kekuasaan total. Dia juga pribadi yang selalu curiga. Dia sering melihat hantu dan yakin bahwa semua orang membicarakan tentangnya. Itu alasannya di setiap klub, dia ingin jadi manajer, direktur, pelatih dan bahkan mencetak program pertandingannya seorang diri,” beber Hoeness kepada DailyMirror, Senin (17/2/2014).

 

“Dia selalu memeras batasan fisik pemain. Dia memaksa pemain mencapai fase yang tidak masuk akal. Sampai ke ambang batas. Buatnya sudah biasa menguras tubuh seorang profesional layaknya lemon sampai tetes terakhir. Dia sering membuat pemain mencapai batas yang tak menyehatkan buat tubuh seorang pemain,” lanjutnya memperingatkan.

 

Mungkin untuk program jangka pendek, gejala-gejala yang diutarakan Hoeness belum akan terlalu terasa. Tapi sejumlah tim Bundesliga sudah menyatakan kapok dengan caranya melatih tim. Sampai-sampai, beberapa mantan anak asuhnya menyebut Magath bagaikan seorang diktator.

 

“Mungkin segalanya terlihat baik-baik saja untuk jangka pendek, tapi akan jadi bencana untuk jangka panjang. Felix Magath sudah membuktikan itu di setiap klub yang pernah dilatihnya. Saya tahu Felix akan muncul lagi di sebuah tempat sebagai pelatih, tapi bukan di Jerman,” sambung Hoeness.

 

“Di sini (Jerman), dia tak punya masa depan lagi. Saya kira kesempatannya hanya ada di negara lain, di mana orang-orang tak mengenalnya dengan baik. Dia harus bertanya pada diri sendiri, mengapa semua pemain di semua klub yang dilatihnya berpesta-pora ketika dia pergi. Bahkan ketika dia membawa sukses, para pemain kegirangan ketika dia menuju pintu keluar,” ujarnya lagi.

 

Soal kerasnya cara Magath melatih, sedianya pernah dirasakan sendiri oleh punggawa pinjaman Fulham dari Tottenham Hotspur, Lewis Holtby, kala masih bernaung di Schalke 04. Tapi Holtby malah mengaku mendapat dampak positif dari kerasnya disiplin fisik yang diterapkan Magath.

 

“Saya tak pernah berlatih begitu kerasnya seperti saat di bawah asuhan Felix Magath. Akan tetapi, saya mengambil banyak hikmah dari hal itu pada awal karier profesional saya,” timpal Holtby.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini