PETA kekuatan sepak bola Tanah Air terus mengalami transformasi sejak kompetisi amatir Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi satu wadah profesional bernama Liga Indonesia pada tahun 1994. Sejak era unifikasi tersebut, sejumlah klub tradisional hingga tim modern saling sikut untuk menasbihkan diri sebagai penguasa tertinggi sepak bola nasional.
Hingga musim kompetisi 2025-2026 yang tengah berjalan menuju pekan terakhir, sejarah mencatat hanya ada beberapa klub yang mampu tampil konsisten dan mengoleksi lebih dari satu trofi juara di era modern. Dominasi tim-tim besar ini menjadi bukti kekuatan mental dan pengelolaan klub yang sehat di tengah dinamika serta turbulensi kompetisi domestik yang kerap berubah format.
Persib Bandung saat ini berstatus sebagai raja kompetisi modern setelah sukses mengamankan empat trofi juara, masing-masing pada musim 1994-1995, 2014, 2023-2024, dan yang terbaru pada 2024-2025. Di bawah komando taktik Bojan Hodak, Persib berada di ambang mencetak sejarah emas baru pada musim 2025-2026 ini.
Hingga pekan ke-33, Persib kukuh di puncak klasemen dengan raihan 78 poin, hanya terpaut dua angka dari Borneo FC di posisi kedua. Persib hanya membutuhkan hasil imbang atau tambahan satu poin saat bersua Persijap Jepara pada Sabtu, 23 Mei 2026, untuk mengunci gelar kelima mereka sekaligus merayakan status hattrick juara liga secara beruntun.
Tim berjuluk Mutiara Hitam ini pernah menjadi momok paling menakutkan di Indonesia dengan melahirkan generasi emas talenta lokal Papua. Persipura mengamankan empat gelar juara kasta tertinggi pada musim 2005, 2008-2009, 2010-2011, dan 2013.
Sayangnya, kejayaan tersebut kini meredup seiring dinamika sepak bola nasional. Pada musim 2025-2026, Persipura harus berjuang di kompetisi kasta kedua (Championship). Mereka bahkan dipastikan gagal promosi ke Super League musim depan setelah takluk 0-1 dari Adhyaksa FC dalam perebutan tiket terakhir, merelakan dua tiket promosi lainnya digenggam oleh Garudayaksa FC dan PSS Sleman.
Tepat di bawah bayang-bayang Persib dan Persipura, terdapat kelompok klub papan atas yang berhasil mengoleksi dua gelar juara sejak tahun 1994. Kelompok ini dihuni oleh kombinasi tim tradisional eks Perserikatan serta satu kekuatan modern.
Salah satu tim berlatar belakang era Perserikatan, yakni Persija Jakarta membuktikan kelayakannya sebagai klub besar yang mampu beradaptasi dengan iklim profesional. Persija Jakarta berhasil naik ke podium juara pada musim 2001 dan 2018.
Sementara itu, PSM Makassar sukses merajai kompetisi pada musim 1999-2000 serta menyudahi dahaga gelar jangka panjang mereka pada musim 2022-2023.
Bali United menjadi satu-satunya klub kontemporer baru yang berhasil merusak dominasi tim-tim tradisional berdarah Perserikatan. Perwakilan dari Pulau Dewata ini mencatatkan prestasi mentereng dengan meraih gelar juara pada musim 2019 dan langsung menggenapinya secara back-to-back pada musim 2021-2022.
Selain kelima nama klub di atas, sejatinya masih ada Persebaya Surabaya dan Persik Kediri yang juga mencatatkan dua gelar Liga Indonesia. Persebaya mengunci dua trofi bergengsi mereka pada masa-masa awal liga profesional, tepatnya musim 1996-1997 dan 2004.
Di sisi lain, Macan Putih—julukan Persik Kediri—sempat menggebrak sepak bola nasional saat menjadi kekuatan baru yang menjuarai kompetisi pada musim 2003 dan 2006.
(Rivan Nasri Rachman)