MESKI berhasil menumbangkan Lecce, Jose Mourinho tidak puas dengan permainan yang ditunjukkan AS Roma. Eks pelatih Chelsea itu menyebut anak asuhnya tampak seperti tidak mengerti instruksinya.
Sebagaimana diketahui, AS Roma berhasil meraih kemenangan atas Lecce 2-1 dalam lanjutan Liga Italia 2022-2023. Berlaga di Stadio Olimpico, Roma pada Senin 10 Oktober 2022 dini hari WIB, Giallorossi -julukan AS Roma- tampil dengan penuh percaya diri.
Mereka pun berhasil mencetak sepasang gol, yang masing-masing dicatatkan oleh Chris Smalling (6’) dan penalti Paulo Dybala (48’). Sementara itu, gol balasan dari Lecce dilesakkan oleh Gabriel Strefezza (39’).
Namun, kemenangan yang diraih Giallorossi belum membuat Jose Mourinho puas. Ia mengatakan timnya belum mempunyai organisasi permainan yang baik.
BACA JUGA:Kena Penalti di F1 GP Jepang 2022, Charles Leclerc Cuma Bisa Pasrah
Tidak hanya itu, The Special One -julukan Mourinho- menyindir para pemainnya yang kurang mengerti instruksi yang diberikan olehnya. Namun, ia memiliki spekulasi hal tersebut terjadi karena kelelahan yang dialami anak asuhnya.
“Yang mengkhawatirkan saya, di luar kelelahan adalah manajemen permainan yang buruk. Dua sentuhan, satu sentuhan, mengubah ritme, menunggu lawan keluar dari bentuknya. Kami banyak mempelajari lawan dan kami tahu bagaimana mereka ingin menekan dan di mana kami bisa menemukan ruang,” ujar Jose Mourinho seperti dilansir dari laman resmi AS Roma, Senin (10/10/2022).
“Beberapa kali, menonton pertandingan, saya mulai berpikir bahwa bahasa Italia saya pasti menjadi sangat buruk, karena para pemain benar-benar tidak memahami saya, karena mereka melakukan kebalikan dari apa yang saya katakan kepada mereka. Tapi mungkin itu juga akibat dari kelelahan,” sambung Jose Mourinho.
Oleh karena itu, Jose Mourinho berharap anak asuhnya mampu keluar dari situasi sulit seperti ini. Terlebih lagi, mereka Sudha kehilangan dua kunci permainan di awal musim. Kini, The Special One berharap kepada sosok Georginio Wijnaldum.
“Kami harus melewati periode sulit ini. Ketika (Henrikh) Mkhitaryan dan (Jordan) Veretout pergi di awal musim, kami merekrut (Georginio) Wijnaldum untuk menjadi orang yang bermain di tengah, untuk memberi tim ritme yang berbeda dan berbagai opsi di lini tengah. Ketika kami kehilangan dia, kami mulai memiliki lebih banyak masalah di sana,” pungkasnya.
(Dimas Khaidar)