MUSIM PANAS 2019 menjadi momen yang berat bagi Chelsea. Sebab The Blues –julukan Chelsea– harus dihadapkan dengan sejumlah masalah yang bisa dikatakan cukup pelik untuk ukuran klub besar.
Chelsea harus menerima kenyataan mereka mendapatkan hukuman larangan transfer karena terbukti melakukan pelanggaran transfer pemain di bawah umur. FIFA –induk sepakbola dunia– pun menghukum Chelsea tak boleh aktif dalam bursa transfer selama satu musim.
Padahal, Chelsea sebenarnya membutuhkan tambahan amunisi untuk memperkuat skuad mereka di musim 2019-2020. Terlebih setelah Chelsea harus melihat bintangnya, Eden Hazard, berganti kostum menjadi Real Madrid pada musim panas ini.
(Hazard pilih tinggalkan Chelsea untuk gabung Real Madrid)
Masalah lain pun menerpa Chelsea dalam mempersiapkan diri menyambut musim 2019-2020. Chelsea harus menerima kenyataaan ditinggal sang manajer, Maurizio Sarri, yang memilih melanjutkan karier kepelatihannya bersama Juventus.
Hengkangnya Sarri pun sempat memang menjadi pukulan telak bagi Chelsea. Terlebih mantan pelatih Napoli tersebut sukses mengantarkan Chelsea menjuarai Liga Eropa 2019-2020. Chelsea sendiri akhirnya menunjuk salah satu legenda mereka, Frank Lampard, sebagai juru taktik anyar.
Penunjukkan Lampard sebagai pelatih baru Chelsea sendiri menuai beragam tanggapan. Ada yang mendukung, tapi tidak sedikit pula yang mengecam. Terlebih, Lampard sendiri memang dinilai masih terlalu ‘hijau’ dalam karier manajerial.
BACA JUGA: Ironi Chelsea di Saat Arsenal dan Tottenham Bergerilya di Pasar Transfer
Keuntungan yang dimiliki Lampard sebagai pelatih Chelsea adalah ia mengenal betul seluk beluk dalam tubuh The Blues. Hal tersebut cukup wajar, mengingat Lampard pernah menghabiskan 13 tahun berseragam Chelsea. Situasi itu semakin membuat para penggemar Chelsea tak sabar melihat seperti apa kiprah Lampard sebagai manajer Chelsea.