LONDON - Aksi rasisme Luis Suarez terhadap Patrice Evra memantik Chief Executive PFA (Asosiasi pemain professional Inggris) Gordon Taylor angkat bicara. Intinya, Taylor berharap banyak kasus rasisme Suarez di lapangan hendaknya menjadi pelajaran bagi para pemain lainnya.
Selain bursa transfer musim dingin, kasus rasisme penyerang Liverpool itu belakangan memang menghiasi suratkabar di Inggris. Maklum, Suarez harus menjalani hukuman berat, imbas dari perkataan kasarnya kepada Evra.
Pemain asal Uruguay itu dijatuhi hukuman delapan kali bertanding plus denda sebesar 40 ribu pound, setelah terbukti mengucapkan kata 'Negro' kepada Evra, saat keduanya terlibat kontak fisik dalam laga Manchester United vs Liverpool, Oktober 2011 silam.
Berangkat dari sanksi yang dijatuhi Federasi sepakbola Inggris (FA), Taylor meminta kepada segenap pemain agar mengambil hikmah besar dari kasus ini,khususnya pemain dari luar Inggris.
"Ini pelajaran kepada semuanya. Pemain yang datang ke pertandingan dari negara yang berbeda harus memahami dan menerima bagaimana kami tentang kesetaraan dan keragaman," ketus Taylor dikutip Goal, Kamis (5/1/2012).
Taylor meminta, setiap pemain menerima perbedaan kultur budaya antar individu dan menghormati hak asasi pemain lainnya dari berbagai penjuru dunia yang datang untuk merumput di Premier League.
"(Liga Inggris) mungkin menjadi permainan multi kultur terbesar di dunia. Jadi sangat penting membuat contoh yang tepat," Taylor melanjutkan. "Kami tidak ingin dia (Evra) merasa terintimidasi. Kami ingin pemain berkulit hitam merasa nyaman. Rasisme bisa diatasi dalam hal sepakbola, yang telah diatur dalam hukum negara,"ujarnya.
Kendati demikian, Taylor pun menyadari, masih sulit mencari jalan keluar atas isu rasisme. Menurutnya, sulit mencari pembenaran atas kasus ini yang bisa saja timbul dari kesalahpamahan antar pemain pemain.
"Beberapa isu lebih besar dibanding pemain, klub atau pertandingan dan rasisme salah satunya. Kami harus belajar tentang itu yang seharusnya tidak menjadi kesalahpahaman atau ambigu di masa mendatang," urai Taylor.
Taylor pun menyatakan, hukum di Inggris turut merespon masalah rasisme yang harus dipatuhi semua warga negara termasuk imigran dan kelas pekerja. "Anda tidak ingin beberapa isu terpisahkan dari klub atau masyarakat. Kami merupakan sebuah keluarga dalam sepakbola tetapi kami semua berada di bawah payung hukum di negara ini."
"Setelah hukuman selesai, kami harus bergerak maju dalam cara positif untuk memastikan, hukuman sebagai proses pencegahan serta proses edukasi masih harus terus berlanjut," tuntas Taylor.
(Rejdo Prahananda)