MALANG - Membawa Arema FC ke posisi runner up Indonesia Super League (ISL) 2010/2011 bukan menjadi garansi Pelatih Miroslav Janu bertahan di Malang. Faktanya, manajemen kini sedang mencari nakhoda untuk mengendalikan bahtera Arema musim depan.
Manajemen sendiri tak sungkan menguak kemungkinan pergantian pelatih, kendati kontrak Miroslav Janu sendiri belum tuntas. Malah pihak Arema mengatakan sudah mempunyai daftar pelatih yang dianggap cocok untuk menangani Singo Edan.
“Benar kalau dikatakan Miro belum tentu melatih lagi di Arema. Sekarang ini manajemen tengah mempertimbangkan untuk memilih pelatih mana yang cocok dari sekian nama. Tapi kalau Miro dianggap paling cocok, ya bukan tak mungkin dipilih lagi,” tutur Media Officer Arema Sudarmaji.
Artinya, Miro tetap masuk dalam list yang dibuat manajemen, disamping sebuah nama yang mewakili sosok asing maupun lokal. Sayang Sudarmaji belum menyebut siapa saja yang sudah masuk dalam bidikan Arema sebagai pelatih musim depan.
Hanya saja, berdasarkan informasi yang masuk, dua mantan arsitek tim nasional (Timnas) Indonesia yakni Ivan Kolev dan Alfredi Riedl sudah masuk catatan. Selain itu ada nama mantan pelatih Arema Roberts Rene Albert yang berjasa membawa Singo Edan juara ISL 2009/2010.
Sedangkan pelatih lokal yang masuk bidikan adalah Daniel Roekito dan Nil Maizar. Tapi dua nama lokal tersebut sangat sulit bergabung. Daniel sendiri tengah membicarakan kontrak dengan Persisam Samarinda, sedangkan Nil dipertahankan Kabau Sirah alias Semen Padang.
“Saya belum bisa menyebut. Hanya saja pelatih nantinya harus memenuhi beberapa kriteria yang ditetapkan manajemen,” tambah Sudarmaji. Kriteria terpenting, lanjut mantan wartawan ini, memahami karakter Arema FC serta mampu memberikan prestasi kepada klub.
Minimal, prestasi yang dicatat tidak lebih buruk dibanding musim sebelumnya, yakni posisi runner up. Malah Arema sendiri masih berambisi kembali merengkuh trofi juara yang musim lalu harus berpindah ke tangan Persipura Jayapura.
Ironisnya, langkah manajemen dalam menyusun tim maupun proses verifikasi ke PSSI, mendapat tanggapan sinis dari pemain. Alasannya, manajemen dianggap tak menghargai pemain yang telah berjuang hingga meraih posisi runner up dengan belum membayar kekuarangan gaji dan bonus.
Baik manajemen versi Rendra Kresna maupun Muhammad Nur-Lucky Zaenal sama-sama belum menunjukkan tanggungjawabnya. Manajemen Rendra malah sudah menyatakan bersedia membayar participation deposit sebesar Rp5 miliar walau gaji pemain masih menggantung.
Lebih parah adalah manajemen versi M Nur dan Lucky yang sama sekali belum menunjukkan tanda kehidupan, baik menggaji pemain atau persiapan tim. “Manajemen tak menghargai jasa dan perjuangan pemain. Tetap saja memberi janji tanpa ditepati,” ungkap salah seorang pemain senior yang musim lalu lebih banyak membeku di bangku cadangan.
(Dewi)