GIANYAR – Pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, memberikan respons keras terhadap insiden kekerasan tendangan Kungfu yang mencoreng kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-20 baru-baru ini. Juru taktik asal Brasil tersebut menegaskan perilaku anarkis di lapangan hijau merupakan ancaman serius bagi masa depan sepak bola Indonesia, terutama di level pembinaan.
Insiden tendangan kungfu terjadi dalam laga Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 vs Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah pada Minggu (19/4/2026) lalu. Dalam tayangan yang tersebar di media sosial, pemain Timnas Indonesia U-20 terlibat dalam peristiwa itu.
Dia adalah Fadly Alberto Hengga yang terekam jelas menendang pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis. Belakangan, Fadly sudah membuat pernyataan minta maaf di unggahan media sosial pribadinya.
Souza menilai kejadian tersebut mencoreng nilai sportivitas dalam sepak bola usia muda. Pelatih asal Brasil itu menegaskan bahwa tindakan tersebut layak mendapat sanksi tegas.
"Dan tentang Dewa U-20 lawan Bhayangkara, saya sedih sekali terjadi seperti itu. Sebenarnya, saya pikir harus ada itu denda itu serius, untuk situasi seperti itu," kata Souza di Bali, dikutip pada Kamis (23/4/2026).
Menurut Souza, tindakan tidak sportif seharusnya tidak terjadi dalam sepak bola, terlebih di level usia muda. Dia menyayangkan insiden tersebut muncul di kompetisi EPA U-20 yang seharusnya menjadi ruang pembinaan pemain.
"Saya pikir tidak ada alasan pemain U-20 itu tidak ada yang namanya anak kecil. Mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan. Dan sebenarnya sangat tidak baik kalau ada perkelahian seperti itu, bisa saja ada yang terluka dengan serius," tambahnya.
Souza menegaskan bahwa protes dalam pertandingan merupakan hal yang wajar. Namun menurutnya, tindakan fisik yang berpotensi mencederai lawan tidak bisa dibenarkan.
"Ini adalah masalah serius. Komplain itu bagian dari pertandingan, tapi kalau kita agresif dan kita pukul teman sendiri, tidak boleh. Dan harus dipikir itu dan tidak boleh terjadi itu dalam sepak bola lagi," lanjut Souza.
Pelatih berusia 52 tahun itu juga merefleksikan situasi yang terjadi di timnya. Souza mengakui bahwa pemain kerap kesulitan mengontrol emosi dalam pertandingan.
Hal itu terlihat dari catatan Persija Jakarta hingga pekan ke-29 Super League 2025-2026. Macan Kemayoran – julukan Persija Jakarta – telah mengoleksi delapan kartu merah sepanjang musim.
Jumlah tersebut menempatkan Persija sebagai tim dengan kartu merah terbanyak kedua di kompetisi. Mereka berada tepat di bawah Arema FC yang mengoleksi sembilan kartu merah.
"Kami sudah bicara dengan tim tentang situasi yang kalau tidak bisa dikontrol maka akan merugikan. Emosi adalah hal yang bisa bikin kami rugi di kompetisi ini karena ada banyak kartu," sambung Souza.
"Pastinya kalau tidak terjadi seperti itu pasti mungkin situasi akan lebih baik di klasemen. Ini jadi satu hal yang saya sampaikan ke pemain untuk lebih kontrol ketika banyak komplain ke wasit," tutupnya.
(Rivan Nasri Rachman)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.