Selain piawai menyulap klub sepakbola, Rangnick juga pandai mencium bakat-bakat muda. Timo Werner, Marcel Sabitzer, Emile Forsberg, hingga Naby Keita adalah buah manis dari kejeniusan Rangnick dalam mengasah talenta mentah.
Ilmu yang didapat Rangnick tidak ditemukan dalam waktu semalam. Rangnick memulai karier kepelatihannya dari umur yang sangat belia. Pada 1983, Rangnick yang masih berumur 25 tahun menjadi pemain sekaligus pelatih klub amatir Jerman, Viktoria Backnang.

Selama bertahun-tahun, Rangnick terus mengasah ilmu kepelatihannya. Rangnick menjadi ilmuwan sepakbola yang menginspirasi lahirnya counter pressing ala pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, dan permainan reaktif ala Antonio Conte.
Permainan Klopp yang mengandalkan pressing tinggi di daerah lawan merupakan hasil adaptasi dari pemikiran Rangnick kala menangani Leipzig. Kala masih di Red Bull Arena, Rangnick kerap menugaskan Forsberg, Werner, dan Poulsen untuk maju menekan ke daerah lawan ketika timnya sedang tidak memegang bola.
Selain itu, Rangnick adalah bapak yang memopulerkan antitesis dari permainan yang mengandalkan penguasaan bola ala tiki taka Josep Guardiola. Rangnick lebih menyukai permainan reaktif dari pada penguasaan bola dominan.
Permainan sepakbola Rangnick lebih mengandalkan umpan-umpan panjang dengan menempatkan penyerang-penyerang jangkung di area lawan, Werner dan Poulsen sukses memaksimalkan skema ini.
Maka dari itu, dengan Antonio Conte yang sudah disikat duluan oleh Tottenham Hotspur, tak heran jika banyak media besar Eropa sepakat bahwa Rangnick merupakan pengganti ideal untuk menyalamatkan Man United. Kejeniusan Rangnick diharapkan bisa menyulap Man United menjadi tim yang kembali ditakuti di Eropa, seperti yang telah dirinya lakukan pada Schalke dan Leipzig.
(Djanti Virantika)