nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

7 Fakta Pertandingan Timnas Indonesia U-19 Kontra Thailand

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 10 Juli 2018 07:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 10 51 1920216 7-fakta-pertandingan-timnas-indonesia-u-19-kontra-thailand-76NnLRZLcM.jpg Timnas Indonesia U-19 vs Thailand (Foto: Antara)

SIDOARJO – TImnas Indonesia U-19 harus mengakui keunggulan Timnas Thailand U-19 dengan skor 1-2. Dua gol Thailand dicetak Nattawut Chootiwat menit ke-41 dan Matee Sarakum menit ke-50. Sedangkan satu gol Garuda Nusantara - julukan Timnas Indonesia U-19, dicetak Muhammad Rifad Marasabessy menit ke-84.

Dari kekalahan tersebut ada sejumlah fakta menarik di pertandingan yang berlangsung pada Senin 9 Juli 2018 malam WIB.

7. Keluhan Mahalnya Harga Tiket karena Calo

Antusiasme masyarakat untuk mendukung Timnas Indonesia U-19 ternyata dimanfaatkan segelintir oknum untuk meraup keuntungan. Ya para calo tiket banyak berkeliaran di luar area Stadion Gelora Delta Sidoarjo.

Mereka menjual tiket jauh dari harga yang ditetapkan pihak Panitia Penyelenggara (Panpel). Tiket VIP yang sebenarnya dibanderol Rp100 ribu, tribun utama Rp75 ribu, dan tribun ekonomi seharga Rp30 ribu, oleh para calo dijual dua kali lipat.

Salah seorang penonton Bagus Aditya mengatakan dirinya harus merogoh kocek hingga Rp200 ribu guna membeli tiket di tribun VIP.

Ia menyayangkan panpel seolah–olah menutup mata dengan banyaknya calo yang berkeliaran di area stadion.

“Banyak sekali calo di sini mas. Itu aparat dan panpel diam saja padahal mereka tahu lho,” beber Bagus.

Hal serupa dialami Budi Hermanto, ia yang sempat berjuang untuk mendapatkan tiket pada Senin paginya. Namun tiket sudah terjual habis dalam kurun waktu 1,5 jam.

“Tadi pagi 1,5 jam sudah habis. Ini malamnya kok malah banyak calo. Apa tadi itu yang membeli kebanyakan calo ya,” keluhnya.

Benar saja, Okezone sempat mendapatkan tawaran tiket VIP dan tribun utama dari seorang calo. Ia menawarkan tiket harga Rp 200 ribu untuk VIP dan Rp 150 ribu untuk tribun utama.

“Terakhir..terakhir.. Mau beli tidak? Kalau tidak ya tidak apa-apa masih banyak yang butuh," terangnya dengan nada sedikit tinggi.

Namun tak ada satupun pihak panpel yang berani memberikan komentar terkait maraknya calo di sekitar stadion.

Bahkan yel–yel keluhan tiket mahal sempat dinyanyikan penonton. “Tikete larang, tikete larang, tikete larang (tiketnya mahal),” demikian nyanyian suporter dari tribun selatan.

Antrian Tiket Suporter Timnas Indonesia U-19 (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

6. Penataan di Sekitar Tribun Media yang Lebih Rapi

Setelah sebelumnya di laga lawan Vietnam U-19 penonton di sekitar tribun media banyak keluhan dari awak media mengingat banyaknya penonton yang berdiri sehingga mengganggu akses pengambilan gambar.

Panpel tampaknya belajar dari pengalaman tersebut, di pertandingan Senin malam Panpel mengkhususkan tribun VIP selatan untuk sejumlah awak media yang masuk.

Ketika penonton di tribun VIP selatan penuh, akses masuk digiring ke gerbang utara oleh Panpel.

“Ayo penonton yang VIP melalui gerbang utara,” teriak seorang panpel di luar stadion dengan mengenakan pengeras suara di tangannya.

Benar saja, gerbang VIP selatan tampak lengang. Pembatas pagar pun tampak rapi. Panpel membagi pembatas antara penonton umum ke tribun dengan akses awak media menuju ruang media yang berada di bawah tribun VIP selatan.

Tribun Media (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

5. Rotasi di Posisi Penjaga Gawang

Rotasi pemain menjadi pemandangan wajar yang dilakukan oleh Pelatih Timnas Indonesia U-19 di fase grup A Piala AFF U-19 tahun 2018 ini. Ada tiga pemain baru yang dimainkan pertama kali sebagai starting line-up yakni penjaga gawang Muhammad Aqil Savik, bek sayap kiri David Kevin Rumaklek, dan penyerang Aji Kusuma.

Namun rotasi yang menarik perhatian penonton di posisi tersebut yakni penjaga gawang. Ya Muhammad Riyandi yang dalam empat pertandingan sebelumnya mengawal mistar gawang Garuda Nusantara, digantikan oleh Muhammad Aqil Savik.

Meski kebobolan dua gol, penampilan Aqil Savik sebenarnya cukup gemilang , beberapa kali penyelamat gemilang ia lakukan.

Di menit ke-16 misalnya, tendangan keras kapten Thailand U-19 Sittichok Paso mampu ditepis oleh Aqil. Peluang emas tendangan Suphanat Mueanta yang membentur pemain belakang Timnas Indonesia U-19 sempat mengecoh Aqil yang terlanjut melompat.

Namun tangan kiri Aqil masih sigap meninju bola,bola liar yang lepas akhirnya disapu oleh bek Kadek Raditya.

Belum lagi penyelamatan lainnya yang membuat tim Gajah Putih hanya mampu mencetak 2 gol ke gawangnya.

Timnas Indonesia U-19 (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

4. Sempat Kehilangan Fokus di Babak Pertama

Entah karena sudah merasa masuk semifinal sehingga terlena, atau karena grogi menghadapi Thailand, Timnas Indonesia U-19 sempat kehilangan fokus di babak pertama.

Beberapa kali Nurhidayat cs kerap melakukan kesalahan umpan dan kontrol bola yang terlepas. Bahkan pemain Thailand kerap kali diberikan kebebasan menguasa bola di pertahanan Indonesia

Alhasil sebuah umpan pendek kapten tim Sittichok Paso ke Matee Sarakum diteruskan tendangan jarak jauh yang tak mampu dibendung Muhammad Aqil Savik.

Kelengahan di babak pertama ini diakui Pelatih Indra Sjafri. “Secara keseluruhan pertandingan berjalan menarik. Tapi di babak pertama tim buat kesalahan – kesalahan individu, mulai salah umpan hingga kontrol yang lepas,” ujarnya saat konferensi pers.

Ia juga memberikan catatan sudah lolosnya Timnas Indonesia U-19 ke semifinal membuat anak asuhnya ‘terlena’ dengan keadaan tersebut.

“Mentalitas pemain. Namanya anak – anak muda sudah lolos akhirnya rasa nyaman muncul. Saat kebobolan baru tersentak dan main seperti semula,” terangnya.

Timnas Indonesia U-19 vs Thailand (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

3. Penjagaan Ketat Pemain Thailand

Diakui atau tidak, kesulitan Timnas Indonesia U-19 membongkar pertahanan Thailand karena pressing atau penjagaan tinggi yang diterapkan Pelatih Thailand Ithsara Sritharo.

Penjagaan ini bahkan dilakukan sejak Timnas Indonesia U-19 menguasai bola di pertahanan sendiri.

“Pemain kita instruksikan untuk menekan sejak lini tengah Indonesia saat kehilangan bola. Hal itu berbuah positif,” ujar Pelatih Timnas ThailandU-19, Ithsara Sritharo, saat konferensi pers.

Akibat penjagaan ketat tersebut aliran bola dari lini tengah menuju pemain depan tak berjalan maksimal. Bahkan beberapa kali penyerang Indonesia, Hanis Saghara harus menjemput bola jauh ke belakang.

“Bisa juga salah satu penyebabnya karena pressing ketat,” jawab Indra terkait pressing ketat Thailand ke Timnas Indonesia U-19.

Indra Sjafri pun sempat menarik keluar seorang penyerang Aji Kusuma menit ke-41 diganti oleh pemain tengah Witan Sulaeman.

Pergantian ini untuk memperlancar aliran bola dari lini belakang ke lini depan Garuda Nusantara.

Timnas Indonesia U-19 (Foto: ANTARA)

2. Penghormatan Pemain Thailand ke Tim Indonesia

Meski mendapat kemenangan di kandang lawan dengan iringan terror dari penonton Timnas Indonesia U-19 tak membuat pemain – pemain tak menghormati lawannya.

Terbukti usai pertandingan dan kedua kesebelasan bersalaman di tengah lapangan. Para pemain Thailand baik yang bermain maupun yang cadangan menghampiri bangku cadangan Timnas Indonesia U-19.

Di depan para pelatih, staf pelatih, dan pemain cadangan Indonesia, Sittichok Paso memimpin rekan–rekannya hormat dengan menggengamkan tangan di dada dan membungkukkan badan ke arah kubu Indonesia.

Alhasil penghormatan ini dibalas dengan tepuk tangan jajaran pelatih dan pemain Indonesia, serta para penonton yang berada di tribun tepat di belakang bangku cadangan Indonesia.

Ini membuktikan bahwa permusuhan hanya berlaku 90 menit di dalam lapangan, setelah pertandingan mereka tetap menghargai kubu tuan rumah meski menang.

Timnas Indonesia U-19 (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

1. Kehadiran Menpora Imam Nahrawi

Dari 26.000 penonton yang hadir di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, ada dua sosok special yang hadir menyemangati perjuangan anak asuh Indra Sjafri, keduanya yakni Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dan budayawan Emha Ainun Najib.

Menpora Imam Nahrawi yang mengenakan kemeja hijau muda berbalut jaket hijau dengan syal merah bertuliskan ‘INDONESIA’ duduk di tribun undangan. Ia duduk bersebelahan dengan budayawan sekaligus ulama yang kerap disapa Cak Nun.

Cak Nun sendiri tampak mengenakan kemeja merah dan topi berwarna merah duduk di kiri sang Menpora.

“Saya dengan Vietnam tidak lihat langsung. Ini bisa menyempatkan hadir memberikan semangat ke Timnas Indonesia U-19,” terang Imam Nahrawi.

Tak ketinggalan pria berusia 44 tahun ini turut mendoakan anak asuh Indra Sjafri dapat meraih juara Piala AFF U-19 sekaligus menuntaskankerinduan masyarakat Indonesia akan dahaga juara.

“Saya berharap coach Indra bisa meracik tim ini supaya bisa betul memberikan rasa bahagia dan mengobati kerinduan masyarakat Indonesia kembali juara seperti di tahun 2013,” beber pria kelahiran Bangkalan, Madura ini.

Imam Nahrawi (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

1 / 7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini