nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Zambia: Dedikasi Kenangan Kelam 1993

Randy Wirayudha, Jurnalis · Senin 13 Februari 2012 18:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2012 02 13 51 574787 RSkWrsc2df.jpg Pemain Zambia membentangkan spanduk tentang memori 1993 ketika penyerahan piala Afrika (Foto: Reuter)

LIBREVILLE – Tahun 1993, sepakbola Zambia didera kedukaan mendalam. Tapi keadaan yang berbalik, dialami Zambia, usai menjadi jawara Afrika 2012. Dedikasi pun dipersembahkan untuk para pendahulu mereka yang tewas, juga di wilayah tuan rumah kali ini.

 

Final Piala Afrika 2012 kali ini, digelar di Stade d’Angondje, di ibukota Gabon. Tak jauh dari situ, terdapat lokasi kecelakaan nahas yang dialami timnas Zambia, 19 tahun silam. Merenggut 30 orang, termasuk pemain dan ofisial.

 

Kini, Zambia didera euforia, setelah menang 8-7 dalam drama adu penalti melawan Pantai Gading. Persembahan dan penghormatan pun dilakukan secara hikmat, terlebih dengan hadirnya salah satu survivor kecelakaan tersebut, yang ikut menyaksikan partai final dini hari tadi.

 

Adalah Kalusha Bwalya, yang selamat dari tregedi tersebut. Kini Bwalya duduk sebagai ketua FAZ (PSSI-nya Zambia) dan sang pelatih, Hervé Renard, dengan bangga memberi dedikasi kegemilangan ini terhadap Bwalya, salah satu pewaris yang selamat dalam kenangan kelam Chipolopolo 19 tahun lalu.

 

“Kalusha adalah salah satu pemain terbaik Zambia abad ini. Dia pernah melatih tim ini dan kini menjadi presiden federasi kami. Dia selamat dari kecelakaan dan dia tahu bagaimana pilunya seluruh negara terkait kecelakaan itu,” ujar Renard.

 

“Saya ingin mendedikasikan gelar ini kepadanya dan seluruh mendiang timnas Zambia. Dia memberi saya kesempatan melatih tim ini ketika tak ada satupun yang mengenal saya. Bersama Claude LeRoy dan Kalusha, saya merasa beruntung bisa bertemu keduanya selama karier saya,” tambahnya, seperti disitat Yahoosports, Senin (13/2/2012).

 

Dengan keyakinan, kekuatan takdir dari Tuhan, serta motivasi yang emosional ketika bermain di Gabon, mereka mampu membalikkan prediksi semua pihak, yang menjagokan Pantai Gading.

 

“Kami hanya bisa bermain di Gabon (untuk menghormati tim 1993) jika kami berhasil ke final dan itu memberikan kami kekuatan yang luar biasa. Tragedi 1993 memainkan perannya. Kami bukan favorit, tapi kami yakin dengan diri sendiri,” tuntas pelatih berusia 43 tahun tersebut.

(raw)

Berita Terkait

Piala Afrika 2012

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini