Share

Bobotoh Sebagai Bagian Roda Ekonomi Persib

Huyogo Simbolon, Koran SI · Jum'at 01 Juli 2011 22:11 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 01 49 474982 cAUgts6ICB.jpg

BANDUNG – Bobotoh. Apa arti Persib jika pendukung setia tidak hadir “menemani” Persib Bandung bertanding di lapangan hijau? Tidak ada yang namanya sayup-sayup. Bahkan, seluruh isi Stadion akan terasa sunyi. Apalagi jika suatu pertandingan Maung Bandung – julukan Persib – mendapat larangan penonton saat laga berlangsung.

 

Beberapa hari lalu diberitakan jumlah laga kandang Persib menempati peringkat empat terbanyak. Rekor yang terbilang manis meski langkah Matsunaga Shohei dkk tersendat-sendat musim ini. Tertahan di papan tengah!

 

Total sebanyak 14 laga kandang, jumlah penonton yang terhitung yakni 237.269 orang. Atas hasil tersebut klub berjuluk Maung Bandung menempati urutan keempat terbanyak setelah Arema Malang, Persipura Jayapura, dan Persija Jakarta.

 

Jika mau lebih disiplin, jumlah penonton bisa saja lebih banyak. Sebab musim ini dua partai kandang harus dijalani tanpa penonton. Pada saat menjamu Arema FC di Stadion Siliwangi 23 Januari silam, oknum bobotoh membuat pertandingan harus dihentikan. Akibatnya, dalam dua partai berikutnya sanksi dijatuhkan bagi Persib.

 

Pentingnya peranan bobotoh rupanya disadari betul oleh PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) yang mengurusi Persib sejak 2009 silam. Tidak heran, jika Wakil Direktur PT PBB Muhamad Farhan tertarik ketika berwacana untuk membidik program yang menarik minat bobotoh, khususnya pada Persib.

 

Sejauh ini Farhan memantau, basis pendukung Persib tidak hanya lagi di kawasan Bandung. Hal itu memang sudah bisa dipahami karena semenjak Sebab ada istilah jika bobotoh selalu mengiringi langkah Persib dimanapun berada, di dalam dan luar kota Bnandung.

 

“Basis supporter terbesar di Jawa Barat tiga wilayah yakni Priangan Barat dan Priangan Timur. Tapi, dari kawasan Pantura juga banyak tersebar. Kita belum mengenal karakteristik wilayah tersebut. Bisa dibilang, antusias bobotoh dari luar Bandung sangat tinggi,” kata Farhan.

 

Kendati demikian, bobotoh sesungguhnya sudah lebih beragam saat ini. Maksudnya, bukan hanya yang tertarik datang berbondong-bondong ke Stadion, masyarakat pecinta Persib pada umumnya dapat menikmati pertandingan Maung Bandung melalui siara televisi.

 

“Sudah tidak seekstrim waktu dulu. Ini diakibatkan banyak faktor,” cetus lelaki yang dikenal berprofesi sebagai presenter tersebut.

 

Di musim ini, insiden larangan bermain di sisi lain membuat kerugian bagi Persib. Dua partai kandang digelar tanpa penonton akibat dijatuhkannya sanksi. Padahal, jika dua partai tersebut penuh atau bahkan digelar di Stadion berkapasitas lebih banyak, bukan tidak mungkin rekor diraih Persib.

 

Lebih lanjut Farhan menuturkan, tahun ini pihak PT PBB akan melakukan survey untuk mengetahui minat bobotoh terhadap Persib musim ini. “Caranya melakukan lewat sampling. Sebab, yang namanya bobotoh itu sudah beragam, sehingga kita harus tahu apa sebenarnya ketertarikan pada Persib di masa ini,” terangnya.

 

Meski sebatas wacana, Farhan sendiri belum berani membeberkan fakta temuan yang ada sekarang ini. “Saya tidak berani mengklaim untuk hal itu. Namun, ke depan akan dibuatkan program yang mampu menampung aspirasi bobotoh,” pungkasnya.

 

Saat yang sama di musim ini tiga tim ISL mengundurkan diri di tengah perjalanan dan hijrah ke Liga Primer Indonesia (LPI). Ketiga tim adalah PSM Makassar, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro. Tentunya, dengan menyebrang ke kompetisi lain akan berdampak pada pendukung fanatik.

 

Bagi Farhan sendiri, menaggapi hal itu bukan hal yang patut ditakuti. Sebab, dirinya yakin jika Persib tidak akan kehilangan bobotoh. Adapun yang dilakukan yakni dengan mengembangkan usaha bisnis bagi kelangsungan Persib.

 

Untuk tempat nongkrong misalnya, dibuatkan Kafe Persib di jalan Sulanjana Bandung. Informasi seputar klub dapat diakses melalui jaringat internet. Situs resmi klub saat ini yakni persib.co.id. penjualan merchandise juga bisa dikases melalui situs tersebut. Namun, apakah itu semua sudah representatif? Pantas dinantikan pelaksanaan dari wacana tersebut.

(wei)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini