Kegemilangan George Weah tak hanya terlihat kala menjadi pesepakbola, tetapi juga saat banting setir ke dunia politik. Dia tak sekadar jadi politikus di negaranya, bahkan sukses terpilih jadi pemimpin tertinggi di negaranya, yakni presiden.
Langkah George Weah menjadi orang nomor satu di Liberia tidak ditempuh dengan mudah. Pada 2005, George Weah maju sebagai calon presiden (capres), namun harus mengakui keunggulan Ellen Johnson Sirleaf.
Tetapi, George Weah tak menyerah. Dia coba peruntungan lagi pada 2017 dengan maju sebagai capres lewat Partai Perubahan Demokratik (CDC). Ia mengendus peluang besar untuk menang karena sang petahana tidak bisa maju lagi.
Janji kampanye George Weah sebagai calon Presiden Liberia sangat sederhana, yakni meningkatkan pendidikan kejuruan untuk mengatasi kemiskinan, meningkatkan APBN, dan toleransi umat beragama. Ia juga kerap menyinggung asal-usulnya dari keluarga miskin selama berkampanye.
George Weah menepati janji kampanyenya, tidak lama setelah dilantik sebagai Presiden Liberia. Pada Januari 2018, ia memotong gaji sebagai kepala negara hingga sebesar 25% persen. Hal itu dilakukan untuk menghemat anggaran negara mengingat Liberia terancam bangkrut.
Namun, dalam masa 1,5 tahun kepemimpinannya, masyarakat Liberia menganggap George Weah gagal. Ibu Kota Monrovia diguncang gelombang protes massal pada 7 Juni 2019 akibat lambatnya pertumbuhan ekonomi negara serta tingginya inflasi yang menyebabkan harga bahan pokok melambung.
(Djanti Virantika)