ASOSIASI Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) ikut angkat bicara soal polemik penunggakan gaji pemain Kalteng Putra. Presiden APPI, Andritany Ardhiyasa, mendukung penuh sebanyak 29 pemain Kalteng Putra untuk mendapatkan haknya itu.
APPI pun akan melindungi para pemain Kalteng Putra agar terhindar dari jeratan hukum dan sanksi komisi disiplin (Komdis) PSSI. Andritany Ardhiyasa berharap para pemain tak bernasib tragis.
Sebagaimana diketahui, skuad Kalteng Putra mengalami penunggakan gaji dengan durasi dua sampai tiga bulan. Hal itu membuat para pemain kompak untuk mogok bermain dan curhat di media sosial.
Kondisi itu membuat Laskar Isen Mulang -julukan Kalteng Putra- melaporkan curhatan pemain dia media sosial ke pihak polisi dengan landasan Undang-Undang ITE. Tidak hanya itu, mereka pun terancam sanksi dari Komdis PSSI imbas mogok bermain.
Andritany mengatakan para pemain memang sudah dimintai keterangan oleh Komdis PSSI terkait mogok bertanding dalam laga Kalteng Putra melawan PSCS Cilacap. Laga playoff degradasi Liga 2 itu digelar pada pada 27 Januari 2024.
Fakta-fakta terkait persoalan tersebut sudah dijabarkan. Para pemain pun dengan berat tidak turun dalam laga tersebut.
"APPI berharap Komdis bisa bertindak tepat dalam menyelesaikan masalah ini sehingga para pemain tidak bernasib tragis menjadi korban deretan malapetaka sepakbola Indonesia," kata Andritany dalam konferensi pers, Jumat (2/2/2024).
"Jangan sampai para pemain yang tidak dibayar gajinya ini yang justru malah dilaporkan ke polisi oleh klubnya, lalu disanksi (Komdis) PSSI. Tragis," tambahnya.
Sebelumnya, asosiasi pesepakbola dunia (FIFPro) pun memberikan sorotan atas adanya persoalan tersebut. FIFPro pun menyarankan untuk PSSI bergerak mengatasi persoalan tersebut.
"Kami mendukung para pemain Kalteng Putra yang hanya meminta klub menghormati hak-hak dasar mereka sebagai pesepakbola dan memberikan gaji sesuai hak mereka," pernyataan FIFPro.
"Sangat mengecewakan bahwa kepemimpinan Kalteng Putra bukan hanya tidak menghormati kontrak pemain dengan tidak membayar gaji mereka, tetapi juga memberikan tekanan yang tidak semestinya kepada para pemain dengan mengintimidasi mereka melalui prosedur pidana," sambung keterangan itu.
"Strategi yang tidak seharusnya ini pernah digunakan sebelumnya oleh sebuah klub di Indonesia dan FIFA telah memberikan sanksi atas hal tersebut," tambah keterangan itu.
"FIFPRO telah menyampaikan kepada FIFA mengenai masalah ini dan mendesak agar PSSI segera melakukan intervensi untuk menyelesaikan situasi tersebut," tutup keterangan tersebut.
(Djanti Virantika)