BARCELONA - Drama Lionel Messi terus berlanjut. Kabarnya, sejumlah fans Barcelona mencoba menghentikan sang ikon Blaugrana pindah ke Paris Saint-Germain (PSG).
Mengutip laporan Marca, Selasa (10/8/2021) sekelompok sosiolog, yang dipimpin oleh pengacara Juan Branco, telah mengajukan keluhan kepada Komisi Eropa. Mereka mencoba menghentikan penandatanganan Messi ke PSG, berdasarkan aturan Financial Fair Play (FFP).
Keluhan mengatakan bahwa angka FFP PSG lebih buruk daripada Barcelona. Fans Barca tersebut mengklaim bahwa raksasa Liga Prancis itu telah menghabiskan 99% dari pendapatan mereka untuk memberi gaji para pemainnya. “Berbeda dengan Barcelona 54%," ujar Branco.
Baca juga: Ferran Reverter, Sosok yang Bikin Lionel Messi Bertahan di Barcelona
Mereka juga kesal dengan operator liga Prancis. Para pendukung Leo Messi itu menganggap Liga Prancis tidak mengambil tindakan terhadap PSG atas penyalahangunaan aturan FFP.
Baca juga: Lionel Messi Menuju PSG, Bagaimana Nasib Nomor 10 di Barcelona?
Atas dasar itu, para fans ingin menghentikan kepindahan Messi ke PSG. Mereka menuduh Les Parisien telah menghabiskan banyak uang untuk memberi gaji dan pemain baru serta perpanjangan kontrak Neymar, yang berarti PSG telah merugi 200-300 juta euro.
"Situasi yang memalukan bahwa Barca harus kehilangan pemain terbaik mereka ketika mereka lebih mengikuti aturan daripada PSG," kata Branco.
"Masalahnya adalah di Prancis, untuk membantu Qatar, yang menyelenggarakan Piala Dunia 2022 , komite yang bertanggung jawab atas kontrol keuangan telah memutuskan untuk tidak menerapkan sanksi ekonomi hingga 2023,” tambahnya.
Sekadar informasi, PSG dimiliki oleh pengusaha asal Qatar, Nasser Al-Khelaifi. Dia ketua Qatar Sports Investments, serta media BeIN Media Group.
Lionel Messi memang terus dikaitkan dengan PSG setelah terpaksa pergi dari Barcelona karena aturan finansial Liga Spanyol. Pemain Argentina itu sebenarnya sangat ingin bertahan di Camp Nou, bahkan dia rela gajinya dipangkas hingga 50 persen, namun hal itu tetap tak bisa menutup masalah keuangan yang buruk di Barcelona.
(Rachmat Fahzry)