JAKARTA – Pemain paling senior di Persija Jakarta, Ismed Sofyan tak kenal lelah saat bermain membela tim Macan Kemayoran. Karakter pemain berusia 40 tahun ini berkarakter ngotot dan tanpa menyerah.
Ismed selalu tampil dengan energi luar biasa, bahkan tak jarang, ia tampil meledak-ledak agar semangat juang timnya kembali terangkat.
Baca juga: Nilai Transfer Andritany Ardhiyasa Lebih Tinggi Dibanding Kiper Inter Milan
Baca juga: Daftar Perpindahan Pemain Liga Indonesia yang Membuat Kecewa Suporter
Ismed yang sudah bermain di Persija sejak 2002 ini mengatakan, permainannya yang ngotot karena dia ingin memberikan penampilan terbaik untuk Persija.
“Sudah ditanamkan dalam diri saya jika saya membela tim prinsip saya tidak ingin tim saya kalah. Artinya saya bisa memberikan seribu persen di atas lapangan,” ujar Ismed mengutip laman Persija, Rabu (22/7/2020.
Akibat permainannya yang tegas, banyak penggemar yang mengira karakter Ismed tetap keras meski sudah di luas lapangan. Padahal, hal itu sangat terbalik.
“Tentunya sangat berbeda jika lapangan kita harus memberikan segalanya makanya saya dikenal dengan karakter yang keras. Namun kalau orang yang mengenal saya pribadi saya di luar lapangan tentunya jauh berbeda,” kata dia.
Tips jadi bek
Ismed memberikan tips untuk bisa jadi pesepakbola sepertinya dirinnya meski sudah berusia 40 tahun.
Meski sudah berumur 40 tahun, jasanya kerap tidak tergantikan anak-anak muda Persija. Terhitung sudah 17 tahun lamanya Ismed berada dalam balutan seragam merah kebanggaan Persija.
Dengan pengalamannya yang panjang dan masih aktif sebagai pemain sepakbola profesional, Ismed memberikan tips bagaimana bisa bermain seperti dirinya. Ia membagikan hal ini dalam program Persija, Become A Pro.
“Sebagai pemain belakang yang harus sama baiknya dalam menyerang dan bertahan kita harus selalu bugar. Untuk menjadi bugar tentunya kita wajib menjaga pola makan, tidur, istirahat dan tentunya latihan,” kata Ismed.
Ia juga berbagi pengalaman saat mengawal lini pertahanan Timnas Indonesia. Menurutnya pemain dari setiap negara memiliki karakter berbeda-beda.
“Sejumlah Timnas negara lain memiliki strategi saat menyerang, bek sayap dan gelandang sayap maju secara bersamaan. Hal ini menyulitkan pemain belakang. Mungkin ini yang harus dipersiapkan teman-teman saat nantinya membela Timnas,” pungkas dia.
(Ramdani Bur)