Usaha Khedira Hapuskan Islamofobia di Tanah Jerman

Ramdani Bur, Jurnalis
Minggu 19 Juli 2020 12:33 WIB
Sami Khedira (tengah) saat bercanda dengan Alex Sandro. (Foto: @SamiKhedira)
Share :

PENCINTA sepakbola Jerman pasti tak asing dengan sosok Sami Khedira. Pria kelahiran Stuttgart, 4 April 1987 itu merupakan salah satu pilar Tim Nasional Jerman saat menjuarai Piala Dunia 2014.

Semenjak pertama kali membela Die Mannschaft –julukan Jerman– pada 5 September 2009, satu posisi di lini tengah selalu jatuh ke tangan Khedira, jika pemain keturunan Tunisia itu tidak mengalami cedera atau terkena akumulasi kartu.

Kemampuannya dalam mengorganisir lini tengah Die Mannshacft, membuat Khedira dicintai publik Jerman. Selain kerap membawa Jerman mentas ke fase akhir turnamen besar, gelandang 33 tahun itu aktif di dunia sosial.

Beberapa kali Khedira menyumbangkan rezekinya ke beberapa badan amal yang ada di Jerman. Hanya saja, sejauh ini Khedira hanya dicintai publik Jerman dalam statusnya sebagai pesepakbola, bukan dari agamanya.

Sekadar informasi, Islamofobia atau ketakutan dan prasangka buruk kepada umat Islam, masih cukup kencang di Jerman. Menurut laporan Harvard Political Review, kehadiran Khedira belum mampu mengurangi Islamofobia di Eropa, khususnya Jerman.

Di Jerman, masih kerap terjadi keributan yang melibatkan komunitas muslim dengan masyarakat Jerman yang belum bisa lepas dari pandangan miring soal Islam. Banyak dari warga Jerman maupun Eropa keseluruhan, beranggapan Islam sebagai agama yang lekat dengan terorisme.

BACA JUGA: Pengakuan Khedira yang Pernah Tak Puasa Ramadhan

Anggapan itu muncul setelah beberapa kali kasus terorisme yang terjadi, selalu ada saja segelintir orang yang menyebut umat Islam bertanggung jawab atas berbagai serangan yang dilakukan.

“Komunitas muslim di Jerman, terutama (keturunan) orang Turki masih dibenci dan ditakuti sebagai teroris oleh sebagian warga Jerman," tulis Alex Koeing ketika menulis laporannya di Harvard Political Review.

Gelandang Manchester United, Paul Pogba, yang memilih menjadi mualaf pada 2013, kesal ketika umat Islam disebut bertanggung jawab atas serangkaian aksi terorisme yang terjadi di Eropa. Pogba menilai, Islam merupakan agama yang tenang dan sangat jauh dari kesan buruk di atas.

“Islam tidak seperti yang orang-orang bayangkan, seperti terorisme. Apa yang kami dengar di media itu berbeda. Islam adalah sesuatu yang indah,” kata Pogba mengutip dari The Times.

Sekarang, tugas Khedira dan Pogba untuk mengikis Islamofobia yang ada di Eropa. Winger Liverpool, Mohamed Salah, sudah lebih dulu melakukannya. Menurut data penelitian yang dilakukan Departemen Sains Politik Universitas Stanford, angka kejahatan yang menimpa warga muslim di Inggris turun 18,9 persen semenjak Salah tampil di Liga Inggris pada 2017.

(Fetra Hariandja)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Bola lainnya