PENCINTA sepakbola Jerman pasti tak asing dengan sosok Sami Khedira. Pria kelahiran Stuttgart, 4 April 1987 itu merupakan salah satu pilar Tim Nasional Jerman saat menjuarai Piala Dunia 2014.
Semenjak pertama kali membela Die Mannschaft –julukan Jerman– pada 5 September 2009, satu posisi di lini tengah selalu jatuh ke tangan Khedira, jika pemain keturunan Tunisia itu tidak mengalami cedera atau terkena akumulasi kartu.
Kemampuannya dalam mengorganisir lini tengah Die Mannshacft, membuat Khedira dicintai publik Jerman. Selain kerap membawa Jerman mentas ke fase akhir turnamen besar, gelandang 33 tahun itu aktif di dunia sosial.
Beberapa kali Khedira menyumbangkan rezekinya ke beberapa badan amal yang ada di Jerman. Hanya saja, sejauh ini Khedira hanya dicintai publik Jerman dalam statusnya sebagai pesepakbola, bukan dari agamanya.
Sekadar informasi, Islamofobia atau ketakutan dan prasangka buruk kepada umat Islam, masih cukup kencang di Jerman. Menurut laporan Harvard Political Review, kehadiran Khedira belum mampu mengurangi Islamofobia di Eropa, khususnya Jerman.
Di Jerman, masih kerap terjadi keributan yang melibatkan komunitas muslim dengan masyarakat Jerman yang belum bisa lepas dari pandangan miring soal Islam. Banyak dari warga Jerman maupun Eropa keseluruhan, beranggapan Islam sebagai agama yang lekat dengan terorisme.
BACA JUGA: Pengakuan Khedira yang Pernah Tak Puasa Ramadhan
Anggapan itu muncul setelah beberapa kali kasus terorisme yang terjadi, selalu ada saja segelintir orang yang menyebut umat Islam bertanggung jawab atas berbagai serangan yang dilakukan.