Dapat dibayangkan, untuk berlatih saja, Bineka harus menyewa lapangan dan membayar honor pemain. Belum lagi segala perlengkapan penunjang layaknya klub sepakbola.
“Saat Bineka berdiri kondisi sepakbola Tanah Air belum bergejolak dan masih normal. Harapan saya tidak muluk-muluk, saya ingin satu waktu Bineka menjadi klub professional yang dapat mengikuti kejuaraan bergengsi di Tanah Air. Makanya saya membuat badan hukum agar lebih professional,” papar Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.
Dengan berjalannya waktu, Bineka mengikuti serangkaian turnamen amatir di sekitar Bogor dan Bekasi. Pada saat bersamaan kondisi sepakbola semakin tak jelas dan banyak pemain professional menganggur alias tidak memiliki klub buntut dibubarkannya PSSI oleh pemerintah.
Kondisi seperti itu membuat hatinya tergugah. Dia merasa prihatin dengan nasib pesepakbola dan memutuskan menggunakan jasa dari mereka.
Sejumlah pemain top didatangkan untuk memperkuat Bineka dalam menghadapi turnamen.