MALANG - Hasil imbang di kontra Ayeyawady United di laga pertama fase grup AFC Cup sangat disesalkan Pelatih Arema FC Antonic Dejan. Menurutnya Arema kurang fokus dalam memanfaatkan kesempatan memenangi laga yang terbuka lebar.
Kendati diakuinya berat memainkan pertandingan dengan 10 pemain sejak akhir babak pertama, Arema FC sebenarnya mempunyai peluang untuk mengalahkan lawannya. Sayang beberapa peluang cantik yang dimiliki di babak kedua tak bisa dimaksimalkan dengan baik.
“Kami lebih berat memainkan babak kedua karena harus bermain dengan 10 pemain. Kami terfokus untuk menjaga keunggulan, namun ternyata tidak sesuai harapan. Gol bunuh diri Faris (Bagus Dinata), cukup memengaruhi konsentrasi pemain,” ucap Antonic Dejan seusai laga.
Sebenarnya pemain Arema sempat berupaya bangkit di menit-menit akhir dan sempat membuka kesempatan. Tapi penyerang-penyerang tim berjuluk Singo Edan gagal memanfaatkan dan harus menyesali hasil imbang. Dejan pun melihat pemainnya tak memiliki ketenangan saat dituntut harus mencetak gol.
“Mereka terburu-buru dalam mencetak gol dan hasilnya malah tidak bagus,” tambah Dejan. Soal kartu merah yang diterima Gunawan Dwi Cahyo, Dejan enggan mengomentari keputusan sang pengadil. Ia cukup mengatakan kehilangan satu pemain sangat memengaruhi permainan timnya.
Dejan sekaligus menegaskan, hasil imbang di pertandingan pertama ini bukan berarti berarti kiamat bagi Arema. Sebab masih ada lima pertandingan lagi yang harus dilakoni. Ia berjanji akan memperbaiki performa tim yang kurang maksimal dalam beberapa pertandingan terakhir.
Sementara, pelatih Ayeyawady United Josef Herel mengakui Arema FC bermain disiplin dan sulit ditembus para pemainnya. Ia merasa beruntung mendapatkan sebuah gol hasil bunuh diri full back Arema FC Faris Bagus Dinata. Josef mengatakan timnya kurang maksimal karena tidak tampil full team.
“Kami mulai berkembang di babak kedua dan ingin memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Arema FC bermain bagus sehingga sulit untuk mencetak gol. Kami beruntung karena mendapatkan gol bunuh diri. Walau tidak tampil bagus, tapi hasil imbang ini masih bisa diterima,” ucap Josef.
Dejan juga sempat marah karena tidak bisa melakukan penggantian pemain secara optimal karena persoalan sepele, yakni tidak adanya kostum. Itu dialami Herry Prasetyo Anggo Julian yang ternyata tidak mempunyai kostum walau duduk di bangku cadangan bersama pemain lain. Di sisi lain, stok pemain bertahan juga tidak mencukupi.
“Saat Hermawan dan Putu (Waringin jati) tidak ada pemain pengganti di posisi mereka. Saya bertambah kesal saat ingin memainkan Herry Prasetyo dan Anggo Julian mereka tidak ada kostum untuk main. Ini benar-benar memalukan,” cetus Antonic Dejan yang tak habis pikir dengan kondisi di timnya.
(Fitra Iskandar)