SEBANYAK 7 pesepakbola yang bermain lebih moncer di timnas daripada di klubnya memang menarik untuk dibahas. Dalam dunia sepakbola, rekam jejak penggawa dari debut hingga menjadi profesional cukup beragam.
Tak sedikit pemain yang memiliki karier moncer setelah usaha kerasnya bertahun-tahun. Ada pula yang jalur kariernya terus di atas dari mulai debut di usia muda hingga menjadi megabintang.

Namun, ada pemain yang justru lebih moncer ketika tampil bersama timnas ketimbang dengan klub. Lantas, siapa saja pesepakbola yang bermain lebih moncer di timnas daripada klubnya? Untuk mengetahuinya, simak ulasan Okezone berikut ini.
Berikut 7 Pesepakbola yang Bermain Lebih Moncer di Timnas daripada di Klubnya
7. Asamoah Gyan (Ghana)

Gyan adalah striker terbaik Ghana sepanjang masa. Pemain berusia 36 tahun itu pencetak gol terbanyak dalam sejarah Timnas Ghana dengan 51 gol dalam 107 pertandingan.
Memang, Gyan tak berhasil mengeksekusi penalti di perempatfinal Piala Dunia 2010 saat melawan Uruguay, yang membuat mereka tersisih pada saat itu. Namun ia mencetak tiga gol di turnamen tersebut dan rekornya di kompetisi utama luar biasa.
Gyan pun mencetak gol melawan Jerman dan Portugal saat Ghana gagal keluar dari grup di Piala Dunia 2014. Sayangnya kemoncerannya di timnas berbanding terbalik saat di level klub, ia memiliki masa-masa biasa saja di Udinese, Rennes dan Sunderland, dan menghabiskan kariernya di Uni Emirat Arab dan China.
6. Eduardo Vargas (Cile)

Vargas menjadi salah satu pemain paling populer di Cile. Striker yang satu ini termasuk pencetak gol terbanyak Copa America dua kali berturut-turut pada 2015 dan 2016.
Keberhasilannya membuat tim Cile memenangkan kedua turnamen itu. Pemain berusia 32 tahun itu juga menjalani Piala Dunia 2014 yang solid, mencetak gol dalam kemenangan 2-0 atas Spanyol.
Secara keseluruhan, ia memiliki 38 gol dalam 90 pertandingan internasional, namun dalam karier klubnya di Eropa adalah bencana.
5. Sergio Romero (Argentina)

Romero menjadi kiper pengganti di level klub sejak 2013. Kali pertama di Monaco, berlanjut ke Sampdoria, dan kemudian di Manchester United. Namun selama tahun-tahun itu, ia telah mencapai tiga final di turnamen besar bersama Timnas Argentina.
Itu adalah Piala Dunia 2014, kemudian Copa America pada 2015 dan 2016. Ia pun hanya kebobolan satu gol dalam 360 menit permainan. Kiper 35 tahun itu termasuk penjaga gawang terbaik yang lebih banyak bermain bersama tim nasional ketimbang klubnya.
4. Lukas Podolski (Jerman)

Mantan penyerang Bayern Munich dan Arsenal itu tak bisa disebut sebagai pemain terbaik Jerman. Meski begitu, ia seorang legenda lokal di Cologne, klub yang membesarkannya.
Kendati demikian, penyerang serbabisa itu mendapat kesempatan tampil dalam 130 laga untuk Timnas Jerman, menempatkannya di urutan ketiga dalam peringkat sepanjang masa. Podolski juga pencetak gol terbanyak ketiga di belakang Miroslav Klose dan Gerd Muller dengan 49 gol.
3. Angelos Charisteas (Yunani)

Charisteas akan dikenang sebagai legenda Yunani untuk generasi yang akan datang, setelah mencetak gol kemenangan melawan Portugal di Final Piala Eropa 2004. Striker kekar itu juga mencetak gol kemenangan melawan Prancis di perempatfinal, dan kontra Spanyol di turnamen yang sama.
Dengan catatan 25 gol untuk negaranya, pemain yang kini berusia 42 tahun itu menjadi pencetak gol terbanyak kedua Yunani sepanjang masa. Charisteas selalu diandalkan untuk tim nasional namun tidak pernah berhasil meyakinkan di klubnya.
Bahkan, ia hanya mencetak sembilan gol di musim terbaiknya bersama Werder Bremen pada 2002-03. Segalanya menjadi lebih buruk selama di Ajax, Feyenoord, Nuremberg, Bayer Leverkusen, dan Schalke.
2. Aljosa Asanovic (Kroasia)

Gelandang elegan satu ini merupakan jantung dari semua yang dilakukan tim nasional Kroasia di akhir dekade 90-an. Umpannya yang sempurna, membuat tim ini masuk perempatfinal Piala Eropa 1996.
Sayangnya, pemain yang kini berusia 56 tahun itu hanya memenuhi sebagian kecil dari potensinya dalam karier klub. Padahal, dia mendapat kesempatan untuk membela Montpellier, Derby, Napoli, dan Panathinaikos.
1. Fabio Grosso (Italia)

Selebrasi Grosso setelah mencetak gol kemenangan pada menit ke-119 melawan Jerman di semifinal Piala Dunia 2006 tidak akan dilupakan. Bek kiri itu melepaskan tembakan melengkung melewati Jens Lehmann untuk menutup salah satu momen paling ikonik dalam turnamen dan menentukan permainan yang benar-benar hebat.
Lima hari kemudian, Grosso memiliki keberanian untuk mengambil, dan mencetak gol penalti terakhir yang krusial yang memastikan kemenangan adu penalti melawan Prancis di final.
Penampilannya secara keseluruhan selama turnamen sangat bagus, dan dia dianggap sebagai pemain kejutan yang baru tampil untuk tim nasional pada usia 28 tahun. Sayangnya, Grosso bermain di divisi yang lebih rendah sampai berusia 23 tahun, dan kemudian relatif tidak diperhatikan di Perugia dan Palermo. Ia bergabung dengan Inter setelah Piala Dunia, tetapi langkah itu tidak berhasil dan Grosso juga mengalami masa-masa buruk di Lyon dan Juventus.
Itulah 7 pesepakbola yang bermain lebih moncer di timnas daripada di klubnya yang tak banyak diketahui penggemar. Semoga bermanfaat!
(Reinaldy Darius)