ITALIA menjadi salah satu negara di dunia yang sangat diperhitungkan dalam dunia sepakbola. Akan tetapi, kegagalan Tim Nasional (Timnas) Italia lolos ke Piala Dunia 2018 menjadi cambuk besar bagi sepakbola di negara Pizza tersebut.
Sejak Roberto Mancini mengambil alih kepelatihan Timnas Italia pada Mei 2018, Azzurri –julukan Timnas Italia– mampu menunjukkan kebangkitannya. Bahkan dalam 27 pertandingan, Italia hanya mencatatkan dua kekalahan saja di semua kompetisi.
Untuk melangkah ke putaran final Piala Eropa 2020, Italia mencatatkan rekor sempurna dalam kualifikasi. Mereka memenangkan 10 pertandingan di Grup J dengan mencetak 37 gol dan hanya kebobolan empat gol.

Langkah mengesankan itu kemudian berlanjut ke UEFA Nations League A1 pada musim lalu. Mereka tercatat sebagai tim yang tidak terkalahkan di fase grup dan muncul sebagai finalis dengan status juara Grup A1.
Berkat catatan apik tersebut, Italia pun menjadi favorit juara Piala Eropa 2020. Mereka pun mendapat keuntungan luar biasa karena Roma, Italia ditunjuk menjadi salah satu tuan rumah ajang empat tahunan tersebut.
Baca Juga: Profil Timnas Wales: Skuad Diasuh Pelatih Penuh Kontroversi
Akan tetapi, Italia tidak selalu mujur setiap mentas di Piala Eropa. Meski telah dinobatkan sebagai juara dunia empat kali, tetapi satu-satunya kesuksesan Azzurri –julukan Timnas Italia– di Piala Eropa hanya terjadi pada 1968.
Pada Piala Eropa edisi ke-60 ini, Italia tergabung dalam Grup A bersama tim-tim kuda hitam yang kuat. Ketiga tim lainnya adalah Turki, Wales, dan Swiss. Meski level Italia berada di atas ketiganya, tetapi tim besutan Mancini itu tetap harus tampil waspada.
Menggeliat Bareng Roberto Mancini
Sejak Mancini menggantikan masa kegagalan Gian Piero Ventura, kini Italia kembali merasakan kejayaan. Sebagai pelatih berpengalaman, pria kelahiran 27 November 1964 tersebut, telah membuktikan diri mampu mengubah nasib Azzurri.
Mancini mempunyai karier kepelatihan apik setelah sukses di dua kompetisi teratas yakni Liga Italia dan Inggris. Ia berhasil meraih Scudetto bersama Inter Milan dalam tiga kesempatan. Lalu, di Liga Inggris, ia membawa Man City meraih gelar Liga Inggris pertama mereka pada era Premier League serta Piala FA.

Sejak di bawah arahan Mancini, Italia telah tampil ke arah yang sangat berbeda. Mereka lebih berani menyerang dan itu terbilang efektif dalam memperkuat ketangguhan Italia. Bahkan mereka mampu membuktikan diri bahwa serangan merupakan bentuk dari pertahanan terbaik.
Keberaniannya dalam memanggil para pemain muda pun membuat Italia tampil dengan wajah segar, yang memiliki rata-rata usia 24 tahun. Setidaknya pemain yang memiliki usia di atas 30 tahun, hanya hitungan jari.