5 Pesepakbola yang Dapatkan Ketenangan Hati Setelah Masuk Islam

Ramdani Bur, Jurnalis · Jum'at 16 April 2021 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 16 51 2395707 5-pesepakbola-yang-dapatkan-ketenangan-hati-setelah-masuk-islam-XURTP9i7xe.jpg Paul Pogba penganut Islam yang taat. (Foto: Instagram/@paulpogba)

SEJUMLAH pesepakbola memutuskan menjadi mualaf atau memilih memeluk agama Islam. Sejumlah faktor melatarbelakangi kenapa sejumlah pesepakbola itu memilh menjadi mualaf.

Beberapa di antaranya, mendapatkan banyak manfaat setelah memeluk agama Islam. Salah satu manfaat yang didapat adalah ketenangan hati. Karena memiliki hati yang tenang, mereka pun lebih fokus saat mengerjakan apa pun. Jadi, siapa saja pesepakbola mualaf yang mendapatkan ketenangan hati setelah masuk agama Islam?

Berikut 5 pesepakola yang dapatkan ketenangan hati setelah masuk Islam:

5. Nicolas Anelka

Nicolas Anelka

Nicolas Anelka memutuskan menjadi mualaf pada 1996, atau satu tahun sebelum turun sebagai pesepakbola profesional. Tiga tahun setelah menjadi mualaf, Anelka menjadi pemain termahal dunia setelah diboyong Real Madrid dari Arsenal pada musim panas 1999 seharga 30 juta euro.

“Menjadi muslim tidak mengubah hidup saya. Saya tetap menjadi orang yang adil dan punya nilai hidup. Apa yang membuat saya memilih islam karena saya merasa agama ini cocok untuk saya,” ucap Anelka, melansir dari Al Arabiya.

"Saya merasa lebih dekat dengan Tuhan dan itu membuat hidup saya menjadi lebih cerah. Saya punya keyakinan dari hati bahwa Islam adalah agam yang harus saya pilih,” lanjut Anelka.

4. Franck Ribery

Franck Ribery

Franck Ribery memutuskan menjadi mualaf jauh sebelum bersinar sebagai pesepakbola. Ia menjadi mualaf pada 2002, atau tak lama setelah menikahi perempuan cantik asal Aljazair, Wahiba Belhami. Sejak saat itu, karier sepakbola Ribery meningkat pesat, terutama bareng Timnas Prancis dan Bayern Munich.

“Agama adalah hal pribadi bagi saya. Saya orang yang percaya dan sejak pindah ke Islam saya lebih kuat, baik mental maupun fisik. Agama tidak mengubah jati diri dan persepsi saya terhadap dunia. Saya berdoa lima kali sehari, saya lakukan itu agar terbebas dan saya merasa lebih baik setelah itu," kata Ribery.

3. Eric Abidal

Eric Abidal

Eric Abidal menjadi mualaf setelah menikah dengan sang istri yang berasal dari Aljazair, Heyet Kebir, pada 2007. Sejak saat itu, karier sepakbola Abidal meningkat. Selama enam tahun (2007-2013) membela Barcelona, Abidal menghadirkan 15 gelar, termasuk dua trofi Liga Champions.

“Semua prosesnya natural. Memilih pindah ke Islam bukan karena istri saya, tapi hadiah yang tiba-tiba muncul. Itu benar-benar terjadi bagi saya. Mengikutinya dan membuat saya sangat senang. Saya memeluk Islam dengan sepenuh hati saya," kata Abidal.

2. Paul Pogba

Paul Pogba

Paul Pogba menjadi mualaf di usia 19 tahun atau pada 2012. Setelah memeluk agama Islam, Pogba lebih percaya diri melakukan hal apa pun. Terbukti, Pogba gemilang bersama Juventus hingga akhirnya diboyong Manchester United sampai memecahkan rekor transfer dunia pada 2016 seharga 105 juta euro.

“Islam tidak seperti yang orang-orang bayangkan, seperti terorisme. Apa yang kami dengar di media itu berbeda. Islam adalah sesuatu yang indah,” kata Pogba mengutip dari The Times.

"Islam membuat saya berubah. Islam membuat saya menyadari hal-hal dalam hidup, saya kira saya menjadi lebih tenang karenanya. Hal itu membawa perubahan yang baik dalam hidup saya karena saya tidak dilahirkan sebagai seorang muslim,” lanjut Pogba.

1. Abel Xavier

Abel Xavier

Bagi Anda fans Liverpool, pasti tak asing dengan sosok bernama Abel Xavier. Pria berpaspor Portugal ini tercatat sebagai fullback Liverpool dari Januari 2002 hingga 2004.

Abel Xavier memutuskan menjadi mualaf pada 2009, atau tak lama setelah pensiun sebagai pesepakbola. Pria yang kerap tampil dengan rambut nyentriknya itu mengaku mendapatkan ketenangan setelah memeluk agama Islam.

"Pada saat-saat sulit, saya menemukan kenyamanan dalam Islam. Secara bertahap, saya belajar bahwa agama Islam mengajarkan kedamaian, kesetaraan, kebebasan, dan harapan. Ini hal yang sangat penting," kata Abel Xavier mengutip dari Goal International.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini