ADA banyak fakta menarik dalam dunia sepakbola yang kerap menjadi perbincangan masyarakat luas. Tetapi selain fakta, serba-serbi dalam cabang olahraga ini juga turut menyimpan beragam mitos yang sampai saat ini masih diragukan kebenarannya.
Kali ini, Okezone pun akan membahas beberapa mitos dalam dunia sepakbola. Sebagaimana dikutip dari Sportskeeda, Kamis (7/5/2020), berikut lima mitos di dunia sepakbola yang terbantahkan.
5. Kekalahan Inggris atas Amerika Serikat di Piala Dunia 1950 Salah Diberitakan
Di urutan kelima, ada mitos perihal kekalahan Tim Nasional (Timnas) Inggris atas Amerika Serikat (AS) di Piala Dunia 1950. Kabar yang berembus menyebutkan bahwa sempat ada kesalahan pemberitaan media di Inggris terkait hasil laga tersebut.

Penampilan Timnas Inggris dalam gelaran Piala Dunia 1950 memang tak bisa berjalan sesuai rencana. Sukses mengalahkan Cile dengan skor 2-0 di laga perdana, Inggris harus menelan kekalahan mengejutkan di laga berikutnya kontra AS dengan skor 0-1 kala itu. Kekalahan berlanjut ke laga kontra Spanyol yang akhirnya membuat Inggris harus berkemas dari turnamen tersebut.
Beberapa mitos pun bermunculan sejak itu, terutama seputar pemberitaan di Inggris. Kabarnya, surat kabar di Inggris justru memberitakan bahwa The Three Lions -julukan Timnas Inggris- menang dengan skor 10-1 atas AS. Tetapi, ada asumsi yang menyebut bahwa ada kesalahan pengetikan saat itu yang seharusnya menjadi 0-1 untuk AS. Faktanya, tidak ada klaim yang benar. Surat kabar melaporkannya dengan cara yang sama seperti yang akan mereka lakukan untuk laga apa pun.
4. Wayne Rooney Pecahkan Rekor Gol Inggris Bobby Charlton dengan Hadapi Lawan yang Lebih Lemah
Mitos berikutnya berhubungan dengan pesepakbola ternama Inggris, Wayne Rooney. Ia memecahkan rekor mencetak gol sepanjang masa Inggris pada 2015. Mantan bintang Manchester United itu pun langsung menjadi pemberitaan utama pada September 2015, ketika penalti di kualifikasi Euro 2016 melawan Swiss. Kesuksesan itu menandai golnya yang ke-50 untuk Inggris.

Gol itu membuat Rooney menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa, memecahkan rekor 49 gol yang dipegang oleh Bobby Charlton pada 1970. Terlepas dari pencapaian Rooney, sejumlah kritik tetap berdatangan. Mereka mengklaim gol yang dicetak olehnya sebagian besar datang dalam laga kualifikasi melawan lawan yang lebih lemah atau dalam laga persahabatan yang tidak berarti.
Kritik menekankan bahwa Charlton hampir semuanya mencetak gol melawan lawan kuat di turnamen besar. Tetapi, bagaimana faktanya? Rooney diketahui mencetak banyak gol melawan lawan yang lemah seperti Kazakhstan, Belarusia, dan San Marino. Tapi, dia juga mencetak gol melawan lawan kuat seperti Brasil dan Argentina, dan tujuh dari 49 golnya datang di turnamen besar. Dari 53 gol internasionalnya, 16 di antaranya datang dalam laga persahabatan.
Sementara itu, Charlton benar-benar mencetak lebih sedikit gol di turnamen besar, sementara 22 dari 49 golnya datang dalam pertandingan nonkompetitif. Jadi kesimpulan dari mitos ini adalah prestasi kedua pria dalam hal mencetak gol untuk Inggris sama-sama mengesankan. Kritik terhadap Rooney sebagian besar salah ketika diklaim melakukannya saat menghadapi lawan yang lebih lemah.
3. Lionel Messi Diberi Steroid oleh Barcelona
Di urutan ketiga, mitos yang muncul terkait penampilan pemain bintang Barcelona, Lionel Messi. Taka ada yang pernah meragukan bahwa Messi merupakan salah satu pesepakbola terhebat sepanjang masa. Tetapi, segelintir kritik tetap bermunculan untuk penyerang berpaspor Argentina tersebut.

Bahkan, ada yang menyebut bahwa tim dokter Barcelona memberi zat terlarang untuk membantu Messi di awal kariernya. Itu adalah mitos yang perlu ditelusuri karena dalam kasus ini, setidaknya sebagian benar. Messi terkenal menandatangani kontrak bersama Barcelona pada usia 13 tahun.
Tetapi, sedikit orang menyadari kesepakatan itu sebenarnya didasarkan pada Barcelona yang bersedia membayar untuk perawatan medis Messi. Perawatan ini melibatkan suntikan hormon pertumbuhan (HGH) untuk mengobati kondisi yang dikenal sebagai GHD atau lebih umum, bertubuh pendek idiopatik.
Biaya perawatan ini sekira USD900 per bulan. Ini adalah alasan bahwa klub Argentina River Plate dan Newell's Old Boys mewariskan superstar masa depan. Tidak dapat disangkal bahwa penggunaan HGH dilarang di semua olahraga, tetapi dalam hal Messi, ada sejumlah hal yang harus diperhitungkan. Dengan kondisi ini, mitos tentang Messi yang diberi zat terlarang oleh Barcelona untuk meningkatkan penampilannya di lapangan harus dilupakan untuk selamanya.
2. India Menolak Masuk Piala Dunia 1950 Usai Diberi Tahu Tidak Bisa Main Tanpa Alas Kaki
Mitos kali ini menarik untuk dibahas. Mitos menyebutkan bahwa India pernah meminta untuk bermain tanpa alas kaki di Piala Dunia 1950. Meskipun liga domestik berkembang dan jutaan penggemar mengikuti pertandingan sepakbola, Timnas India belum bermain di Piala Dunia FIFA.

India pun diundang untuk bermain di Piala Dunia 1950 yang diadakan di Brasil. Ini terjadi karena tim lain dalam grup kualifikasi mereka, yakni Burma, Indonesia, dan Filipina mengundurkan diri. Tetapi, India juga mundur dari turnamen setelah undian untuk babak penyisihan grup.
Mitos pun berkembang dengan menyebutkan bahwa alasan Timnas India mundur kala itu adalah FIFA memberlakukan larangan bermain tanpa alas kaki. Tim India telah bermain tanpa alas kaki pada dua tahun sebelumnya di Olimpiade 1948. Tetapi, itu jauh dari kebenaran. Pertama, sementara delapan dari 11 pemain India tidak memakai sepatu di Olimpiade 1948, tiga sisanya benar-benar memakainya.
Alasan mundur pun ternyata jauh lebih rumit. Pertama, kapten mereka pada saat itu, Sailen Manna. telah menyatakan tim akan sering memakai sepatu saat hujan karena pelunakan tanah. Kedua, dinyatakan bahwa Federasi Sepakbola India (AIFF) tidak menganggap serius Piala Dunia saat itu. Mereka bersiap untuk fokus ke Asian Games dan Olimpiade.
1. Tekel Roy Keane Akhiri Karier Alf-Inge Haaland
Fakta terakhir terkait dengan Roy Keane. Gelandang Man United ini terkenal sebagai salah satu yang hebat sepanjang masa klub. Dia menghabiskan total 12 musim di Old Trafford dan memenangkan 17 trofi yang mengesankan, termasuk tujuh gelar Liga Inggris. Namun, kadang-kadang, reputasinya bisa sedikit lebih buruk.

Satu insiden yang menyebabkan reputasinya menjadi buruk terjadi pada April 2001. Selama Derby Manchester, Keane dikartu merah karena melakukan tekel yang mengerikan kepada pemain belakang Manchester City, Alf-Inge Haaland. Mitos pun bermunculan terkait insiden itu dengan menyatakan bahwa Haaland terpaksa pensiun karena cedera yang diderita akibat tekel Keane. Tetapi, itu tidak benar
Haaland menggantung sepatu lebih dari dua tahun setelah kejadian. Meski mengklaim tekel Keane berperan dalam pensiunnya, itu sebenarnya merupakan cedera kronis pada lutut kiri Haaland yang memaksanya keluar dari permainan. Memang benar bahwa bek tidak menyelesaikan penuh turnamen setelah kejadian. Tetapi intinya adalah Keane tentu saja tidak sepenuhnya dapat disalahkan atas penisun Haaland seperti yang diperlihatkan mitos.
(Ramdani Bur)
Bola Okezone menyajikan berita sepak bola terkini, akurat, dan terpercaya dari dalam negeri maupun internasional. Dukung jurnalisme berkualitas dengan tetap mengikuti update tercepat kami setiap hari.