5 Pelatih Top yang Tak Pernah Jadi Pesepakbola Profesional

Bagas Abdiel, Jurnalis · Selasa 05 Mei 2020 12:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 05 51 2209400 5-pelatih-top-yang-tak-pernah-jadi-pesepakbola-profesional-9YbuUGQW67.jpg Maurizio Sarri (Foto: @juventus/Twitter)

PARA pelatih sepakbola papan atas setidaknya memiliki karier bermain yang luar biasa. Pengalaman mereka bermain di level tertinggi klub sangat membantu mereka dalam mengelola tim sepakbola setelah karier bermain mereka berakhir.

Akan tetapi, selalu ada satu atau dua pelatih aneh yang tidak pernah memainkan permainan secara profesiional tetapi berhasil menjadi pelatih terkenal dan sukses. Siapa sajakah mereka? Berikut lima pelatih top yang tak pernah jadi pesepakbola profesional.

5. Andre Villas-Boas (Portugal)

Villas-Boas tercatat pernah menangani tim-tim besar seperti FC Porto, Chelsea, Tottenham Hotspur, Zenit dan Marseillie. Akan tetapi, siapa yang menyangka jika ia tidak pernah mencicipi karier sebagai pesepakbola profesional sebelum menjadi pelatih.

Saat berusia 16 tahun, ia kebetulan tinggal di apartemen yang sama dengan pelatih Porto, Sir Bobby Robson. Pengetahuannya yang mengesankan tentang sepakbola membuat Sir Robson tertarik kepada Villas-Boas.

Sir Robson pun kemudian mengangkat Villas-Boas untuk mengisi jabatan di Departemen Pengamatan Porto. Bahkan ia dibuatkan lisensi kepelatihan hingga menerima lisensi A ketika berusia 19 tahun. Perjalanan kepelatihannya pun dimulai sebagai asisten di bawah Jose Mourinho di Porto.

Setelah itu, Villas-Boas menikmati karier panjang dan kesuksesan bersama Porto. Ia pun dikenal sebagai pelatih termuda yang pernah memenangkan trofi Eropa saat bersama Porto. Setelah itu, ia pun hijrah ke Chelsea tetapi memiliki kinerja yang buruk.

Begitu pun dengan kariernya di klub Liga Inggris lainnya yakni Tottenham. Beruntung ia mampu membalas kinerja buruk tersebut saat hengkang ke Zenit dan Shanghai SIPG. Saat ini, ia pun menikmati kesuksesan bersama Marseille dengan menempati urutan kedua di Liga Prancis musim ini.

Andre Villas-Boas

4. Leonardo Jardim (Portugal)

Jardim dikenal sebagai pelatih top dengan menangani klub seperti Braga, Olympiacos, Sporting Lisbon dan AS Monaco. Seperti halnya, Villas-Boas, Jardim memulai karier kepelatihannya di usia muda yakni 27 tahun.

Mungkin satu-satunya kritik di awal kariernya adalah kenyataan bahwa ia tidak pernah bertahan cukup lama di sebuah klub sepakbola. Jardim menghabiskan satu musim di Braga, Olympiacos dan Sporting Lisbon.

Pada setiap musim, ia melakukan pekerjaan yang sangat baik dan meningkatkan ketiga tim secara signifikan. Namun, ia pergi meninggalkan ketiga klub tersebut karena satu keadaan yang tidak terduga atau yang lainnya.

Ia baru menemukan stabilitas ketika menjalani pekerjaan di AS Monaco. Jardim pun terbilang sukses hingga mampu membawa AS Monaco melaju ke semifinal Liga Champions pada musim 2016-2017. Sayangnya, setelah awal yang mengecewakan pada musim 2018-2019, ia dibebaskan dari tugasnya.

Tetapi, setelah AS Monaco tidak ada perbaikan di bawah kepelatihan Thierry Henry, Jardim ditarik kembali walau kariernya di seri kedua kurang dari setahun. Pelatih berpaspor Portugal itu sudah keluar dari kontrak.

Leonardo Jardim

3. Maurizio Sarri (Italia)

Maurizio Sarri muda memang mencoba yang terbaik untuk memiliki karier sebagai pemain sepakbola profesional. Tapi ia tidak berhasil lulus di luar level amatir sambil juga bekerja sebagai bankir. Cedera kemudian memotong aspirasinya menjadi pemain sepakbola profesional.

Meski, karier sebagai pemain mandek, tetapi Sarri yang berusia 30 tahun menjadi salah satu pelatih sepakbola termuda ketika ia memimpin USD Stia 1925 di tingkat delapan sepakbola Italia. Tetapi, pada 2012 Sarri dipercayakan tanggung jawab membawa klub divisi dua Liga Italia yakni Empoli.

Setelah kalah dalam playoff promosi di musim pertamanya, Empoli mendapatkan promosi otomatis pada 2013-2014. Pada 2015, Sarri mengalami ketenaran signifikan pertamanya ketika ia ditunjuk sebagai pelatih salah satu klub sepakbola terbesar Italia yakni SSC Napoli.

Pelatih asal Italia itu membantu pemain seperti Dries Mertens dan Allan mencapai kegemilangan yang tidak diharapkan. Sarri juga membuat Napoli memainkan tipe sepakbola menyerang yang dihargai oleh para penggemar di seluruh dunia. Namun, ia belum berhasil memberikan trofi.

Sarri meninggalkan Napoli ke Chelsea pada 2018-2019. Meskipun ia bukan penggemar favorit di London, ia membawa klub meraih trofi Liga Eropa dan merupakan gelar pertamanya sebagai pelatih sepakbola. Saat ini ia menangani Juventus dengan karier yang cukup menjanjikan.

Maurizio Sarri (Foto: UEFA)

2. Brendan Rodgers (Irlandia Utara)

Pada usia 18 tahun, Rodgers ditandatangani oleh Reading sebagai pemain, tetapi kondisi lutut genetik memaksanya untuk pensiun pada usia muda 20. Rodgers diundang oleh Jose Mourinho untuk bergabung dengan Chelsea sebagai pelatih muda pada tahun 2004 dan kemudian menjadi pelatih cadangan klub dua tahun kemudian.

Pekerjaan pertama orang Irlandia Utara itu sebagai pelatih kepala adalah di Watford pada 2008 sebelum pindah ke Reading. Selama dua tahun yang sukses di Swansea, Rodgers membantu klub sebagai yang pertama dari Wales untuk bermain di Liga Premier.

Pada 2012, Rodgers memiliki karier terkenal di Liverpool. Ia datang dengan nyaris memboyong gelarLiga Inggris pada 2013-2014 sebelum Manchester City keluar sebagai juara. Rodgers kemudian dipecat oleh Liverpool pada 2015.

Tahun berikutnya, Rodgers diangkat sebagai manajer Celtic. Di bawah arahannya, klub tidak kalah di liga sepanjang musim saat mereka mengangkat gelar Liga Utama Skotlandia. Setelah memenangkan segala yang ingin dicapai dalam sepak bola Skotlandia, Rodgers kembali ke Inggris untuk memimpin Leicester City pada tahun 2019.

Pemenang Liga inggris 2015-2016 itu memainkan beberapa sepakbola brilian musim ini, sehingga menjadikan diri mereka sebagai salah satu klub terbaik di Liga Inggris di luar The Big 6.

Brendan Rodgers

1. Julian Nagelsmann (Germany)

Julian Nagelsmann adalah pelatih lain yang tidak memiliki karier sebagai pemain karena cedera. Nagelsmann mengambil Administrasi Bisnis dan Ilmu Olahraga sebelum pindah ke pelatihan dan bekerja dengan Thomas Tuchel di Augsburg.

Saat usia 28 tahun, pekerjaan sepak bola pertamanya sebagai pelatih kepala adalah bersama Hoffenheim pada Oktober 2015. Ia pun menjadi pelatih termuda dalam sejarah Liga Jerman saat itu. Meski Hoffenheim terperosok di urutan ke-17, tujuh poin dari zona aman, tetapi Nagelsmann secara drastis mengubah nasib klub dan mengamankan satu musim lagi di Liga Jerman.

Ini terbukti vital, karena musim berikutnya Hoffenheim lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Nagelsmann kemudian pindah ke RB Leipzig pada musim 2019-2020. Ia memainkan sepakbola menyerang yang menakjubkan.

Nagelsmann kemudian menjadi pelatih termuda dalam sejarah Liga Champions untuk memenangkan pertandingan di babak 16 besar dengan menumbangkan Tottenham Hotspur 4-0 pada musim ini. Cukup memukau untuk menyadari bahwa Nagelsmann masih berusia 32 tahun, dan merupakan salah satu prospek terpanas dalam manajemen saat ini.

Julian Nagelsmann

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini